RADARSOLO.COM – Atap plafon ruang guru di SDN Cepoko 2, Dukuh Jaten, Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen mendadak roboh, Rabu pagi (7/10/2026).
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 09.30 WIB tersebut sempat membuat para guru panik hingga mengakibatkan dua tenaga pendidik mengalami luka-luka.
Kejadian berawal saat aktivitas belajar mengajar berlangsung normal. Sekitar pukul 07.00 WIB, beberapa guru yang berada di lokasi sempat mendengar suara retakan dari arah atap.
Awalnya, mereka mengira suara tersebut berasal dari gesekan atau ulah tikus yang melintas di balik atap.
Baca Juga: Nasib Pilu Lansia di Sragen: 19 Tahun 'Terlupakan' Negara, Tidak Masuk Desil dan Luput dari Bansos
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, para guru sempat mengamankan aset penting seperti televisi dan sejumlah perabotan dari dalam ruangan.
Namun, potensi bahaya rupanya tak terelakkan. Puncak kejadian berlangsung sekitar pukul 09.15 WIB, bertepatan saat jam istirahat sekolah.
Material plafon berukuran 8 x 7 meter tersebut mendadak ambrol dan langsung menimpa para guru yang tengah beraktivitas di dalam ruangan.
Akibat kejadian itu, dua orang guru menjadi korban. Guru Fitriana mengalami luka ringan serta shock berat hingga nyaris pingsan, sementara Guru Intan menderita luka lecet. Beruntung, cedera yang dialami para korban tidak tergolong parah.
Baca Juga: Sabu 254 Gram dan 20.909 Butir Ekstasi Dimusnahkan, Kejari Karanganyar Eksekusi 74 Perkara Inkrah
Dugaan sementara, ambrolnya atap disebabkan oleh pergeseran tanah di area sekolah yang memicu peretakan pada struktur dinding bangunan.
Kerugian materiil akibat kerusakan plafon dan dinding retak tersebut diperkirakan mencapai Rp 50 juta.
Sejumlah unsur dari Kepolisian Sektor (Polsek) Sumberlawang, Babinsa Koramil 17/Sumberlawang, Korwil Pendidikan Sumberlawang, hingga pemerintah desa setempat langsung mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan serta pendataan.
Kepala Desa Cepoko, Ngadiman membenarkan adanya musibah tersebut dan mengonfirmasi bahwa kondisi para korban tidak mengalami luka serius.
Baca Juga: Perkuat Ekonomi Keluarga, Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Ternak Ayam di Sragen
Ia menyoroti kondisi fisik bangunan yang dinilainya cukup rentan padahal tergolong belum lama berdiri.
”Ruang guru yang roboh kena gurunya, tapi tidak parah. Bangunan ini sebenarnya baru dibangun sekitar tahun 2020, tapi kondisinya sudah bentet atau retak-retak seperti habis kena gempa. Tidak tahu dulu proses pengerjaannya bagaimana," tegas Ngadiman.
Dia menyampaikan SD tersebut bukan sekolah yang minim murid. Bisa dikatakan cukup banyak siswanya di SD tersebut. (din/adi)
Editor : Adi Pras