RADARSOLO.COM – SDN Kroyo 3 Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen menjadi sekolah pionir (pilot project) di Kabupaten Sragen yang menerapkan skema penyajian baru dalam program makan bergizi gratis (MBG), yakni dengan metode prasmanan.
Inovasi yang telah berjalan sekitar satu pekan tersebut mendapat respons positif dari para siswa dibandingkan metode lama penyajian makanan kemasan wadah (ompreng).
Skema prasmanan ini dinilai mampu menekan sisa makanan (food waste) sekaligus menjaga sajian tetap hangat.
Kepala SDN Kroyo 3 Karangmalang, Anton Purwanto menyampaikan, dari sisi pemanfaatan dan selera siswa, skema prasmanan terbukti jauh lebih efektif.
Baca Juga: Polres Sragen Bekuk Pencuri HP, Diduga Beraksi di Empat Lokasi
”Kalau dari segi makanan, efektivitasnya lebih bermanfaat yang ini. Maksudnya tidak banyak makanan yang terbuang. Anak-anak lebih suka seperti ini karena porsinya sesuai keinginan. Kalau nanti semua sudah tercukupi dan ada sisa, anak-anak yang mau tambah juga bisa,” ujar Anton, Selasa (13/10/2026).
Dalam pelaksanaannya, pihak penyedia yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kroyo 3 menyiapkan makanan hangat sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Saat jam istirahat pertama tiba pada pukul 08.45 WIB, para siswa berbaris antre dengan menerapkan standar kebersihan, seperti mencuci tangan dan mengenakan celemek sebelum mengambil makanan.
Petugas SPPG dibantu sejumlah siswa melayani pengambilan menu. Kendati demikian, Anton tidak memungkiri bahwa penerapan skema prasmanan memiliki tantangan tersendiri pada manajemen waktu penyajian.
Baca Juga: Selamatkan Serat Jawa Hingga Primbon, Disarpus Karanganyar Kebut Digitalisasi Tujuh Naskah Kuno
Proses antrean yang membutuhkan waktu lebih panjang berdampak pada durasi jam istirahat sekolah.
Guna mengantisipasi hal tersebut, pihak sekolah mengambil langkah penyesuaian dengan memperpanjang durasi istirahat siswa dan mengundurkan jam pulang sekolah.
”Manajemen waktunya memang lebih lama. Kalau dulu istirahat 15 menit, sekarang kita tambah jadi setengah jam. Konsekuensinya jam pulang anak-anak agak mundur sekitar 15 menit,” jelasnya.
Sebagai satu-satunya sekolah di Sragen yang menjadi proyek percontohan metode ini, SDN Kroyo 3 berharapan adanya evaluasi teknis agar skema prasmanan dapat terus dilanjutkan tanpa menyita waktu belajar-mengajar.
Baca Juga: KUA-PPAS Sragen 2027 Diproyeksikan Defisit Rp 134,99 Miliar
Anton menyarankan agar ke depan titik penyajian (distribution point) dapat ditambah atau didekatkan ke masing-masing area kelas untuk mengurai antrean.
”Harapan kami ada evaluasi agar tidak membebani waktu yang lebih lama. Misalnya titik penyajian ditambah atau diambil di ruang khusus lalu dimakan di kelas masing-masing, sehingga manajemen waktunya bisa lebih efisien dan singkat,” ucap Anton. (din/adi)
Editor : Adi Pras