RADARSOLO.COM – Keluhan menyeruak di tengah kekhusyukan bulan Ramadan di Bumi Sukowati.
Aroma tak sedap yang menyengat pusat kota Sragen dalam beberapa hari terakhir dikeluahkan warga Sragen Kulon, Kecamatan Sragen.
Bau busuk tersebut diduga kuat berasal dari tumpukan blothong atau residu sisa produksi dari Pabrik Gula (PG) Mojo yang terpapar air hujan.
Dampaknya tidak main-main. Sejumlah fasilitas publik mulai dari Masjid Raya Al Falah, gereja, sekolah, perbankan, hingga pasar tradisional terdampak langsung.
Tak hanya mengganggu kenyamanan, aroma yang menyebar mengikuti arah angin ini juga mulai memukul aktivitas ekonomi warga, terutama para pedagang makanan di sepanjang Jalan Sukowati.
Rahmat Samsono, salah satu warga yang tinggal di sisi utara pabrik mengungkapkan, aroma menyengat tersebut sudah terasa sejak awal puasa.
Kondisi ini diperparah dengan letak pemukiman yang padat penduduk.
"Sangat mengganggu, apalagi ini kawasan ramai. Kami berharap ada solusi jangka panjang, kalau perlu pabrik dipindahkan ke wilayah yang lebih dekat dengan bahan baku seperti Tangen atau Jenar yang banyak perkebunan tebu," keluhnya, Minggu (15/3/2026).
Keluhan serupa datang dari pengurus Masjid Raya Al Falah Sragen, Lutfi.
Ia menyebut aroma limbah tersebut sangat kontras dengan suasana masjid yang seharusnya harum dan nyaman untuk beribadah.
"Masjid Al Falah ini mau diberi parfum apa pun kalah baunya. Masyaallah, baunya kacau sekali sampai ke pasar juga," keluh Lutfi.
Ia menambahkan, pihaknya kini tengah berikhtiar melakukan lobi ke pihak manajemen pabrik.
Sebab, selain mengganggu jemaah, bau tersebut telah menciptakan kondisi yang tidak kondusif bagi pedagang dan pengunjung pasar.
"Ini kami upayakan lobi agar ada tindakan maksimal, supaya tidak merugikan orang banyak," imbuhnya.
Menanggapi gelombang keluhan tersebut, Samuel Mahendra dari bagian keuangan PG Mojo memberikan klarifikasi.
Dia mengakui adanya timbunan sisa produksi atau blothong di halaman pabrik yang merupakan hasil giling tahun lalu.
"Tumpukan itu memang sudah ada sejak musim giling kemarin. Namun, karena intensitas hujan yang cukup tinggi, limbah tersebut belum bisa dikelola dengan maksimal sehingga menimbulkan bau saat terkena air," terang Samuel.
Pihak manajemen mengklaim saat ini tengah melakukan langkah percepatan penanganan bersama mitra dari Paguyuban Masyarakat Mojo Bersatu.
Sebagian limbah mulai direlokasi ke halaman belakang pabrik untuk diolah lebih lanjut.
"Kami sedang relokasi ke belakang, sekaligus membersihkan area depan untuk persiapan tradisi buka giling atau cembrengan. Sebenarnya blothong ini memiliki manfaat besar sebagai pupuk organik bagi petani," tambahnya.
Samuel memastikan bahwa intensitas bau saat ini sudah mulai berkurang seiring dengan proses pemindahan material.
Pihak pabrik berjanji akan terus memantau situasi agar proses persiapan giling tahun ini tidak lagi menyisakan dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar. (din/adi)
Editor : Adi Pras