Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan, pergerakan air terus dipantau. "Kenaikan debit air sudah terlihat pada alat ukur di Jembatan Bacem, Telukan dan Grogol. Untuk saat ini ketinggian masih aman. Diperkirakan puncak musim penghujan jatuh pada Januari- Februari 2020," katanya, Selasa (17/12).
BPBD Sukoharjo memastikan fungsi alat early warning system (EWS) sebagai penanda banjir berfungsi dengan baik. "Kami ada empat EWS dari Balai Besar Sungai Bengawan Solo. Terpasang di Serenan, Bacem, Jembatan Peren dan Kadokan. Kondisi juga baik," imbuh Maryanto.
Pemantauan debit air Sungai Bengawan Solo juga melibatkan relawan Search and Rescue (SAR) dan masyarakat. Tujuannya, warga bisa langsung melakukan evakuasi ketika banjir.
Upaya lainnya melakukan pemetaan daerah rawan banjir dan pelatihan cara menyelamatkan diri, evakuasi, pembentukan dapur umum dan lainnya.
Camat Grogol Bagas Windaryanto menuturkan, siaga banjir telah disampaikan kepada para kepala desa. Mengingat, wilayah nya dilintasi Sungai Bengawan Solo. “Paling rawan memang daerah yang dekat aliran sungai. Kalau banjir yang dulu kan akibat luapan drainase. Setelah ada bantuan pembangunan drainase, diperkirakan tidak ada banjir luapan lagi," jelasnya.
Tahun ini, drainase dibangun di Desa Langenharjo dan Kwarasan. Dengan begitu, air hujan di wilayah Solo Baru bisa langsung dialirkan ke sungai. (rgl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra