Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ratusan Anak di Nguter Sungkem ke Ibu, Tangis pun Pecah...

Perdana Bayu Saputra • Sabtu, 21 Desember 2019 | 21:00 WIB
Ratusan orang menghaturkan sungkem kepada ibu mereka pada momen Hari Ibu di Museum Jawi Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jumat (20/12)
Ratusan orang menghaturkan sungkem kepada ibu mereka pada momen Hari Ibu di Museum Jawi Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Jumat (20/12)
SUKOHARJO – Terenyuh. Itulah yang dirasakan ibu-ibu Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Ketika melihat anaknya bersimpuh mengucapkan kata maaf. Menyambut momentum hari ibu, ratusan anak sungkem kepada sang ibu di Museum Jawi, Tanjung, Nguter, Sukoharjo. Sontak suasana haru pecah.

Satu per satu ibu-ibu terduduk di kursi. Disusul sang anak yang bersimpuh di depan sang ibu. Sejenak sang anak menundukkan kepala di pangkuan sang ibu. Terdengar suara sesenggukan tangis yang pecah. “Ibu maafkan saya, banyak bikin kesalahan,” ungkap salah satu anak.

Mereka lantas saling berpelukan. Ibu-ibu mencoba menenangkan sang anak dengan mengelus punggung mereka. Meski linangan air mata terlihat mengurai di pelupuk matanya. Diiringi lagu “Wiwit Aku Isih Bayi” suasana haru makin menjadi.

Salah satu peserta Sulastri, 39, mengatakan, tangisnya pecah tatkala mengingat perjuangan sang ibu Marto Yatinem, 79. Sulastri mengaku sang ibu yang sudah membesarkan dirinya dan kelima saudaranya seorang diri.

“Ayah saya sudah meninggal sejak saya kecil. Dan ibu saya yang berjuang sendiri membesarkan kami. Dan ternyata sampai sekarang saya belum bisa membahagiakan ibu saya,” ungkap ibu dua anak ini.

Sulastri mengingat ibunya harus mengayuh sepeda onthel dan berjualan sayur keliling. Demi mengihidupi dirinya dan saudara-saudaranya. Kini ibunya yang telah menua tinggal satu rumah dengannya. Karenanya ketika sungkem pada sang ibu, Sulastri tidak bisa menahan air matanya.

“Saya bersyukur bisa ikut acara ini. Dan saya jadi tersadar susahnya ibu saya, penderitaan ibu ketika saya masih kecil. Dia adalah sosok tak tergantikan. Ibu telah melahirkan, mendidik, dan memberikan pelajaran berharga dalam hidup ini,” katanya.

Hal tersebut juga dirasakan Bagas Cahyo, 15. Di tengah sungkeman, Bagas tidak bisa menahan tangisnya. Bagas mengaku meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. “Sosok ibu bagi saya seperti pahlawan. Ibu selalu sabar menghadapi saya dan mau memaafkan perbuatan yang telah saya perbuatan. Terimakasih ibu sabar merawat saya selama ini bandel,” terang siswa kelas satu sekolah menengah atas (SMA) ini. Anak pertama ibu Suparti ini merupakan satu-satunya peserta laki-laki dalam acara sungkeman Hari Ibu ini.

Ketua PKK Desa Tanjung Yuyun Irawati mengatakan, kegiatan ini diprakarsai oleh PKK Desa Tanjung. Pihaknya kemudian menghubungi pemilik Museum Jawi Antonius Bimo Wijanarko yang akrab di sapa Kokor.

“Kami mengambil tema Hari Ibu. Selain menjadi sosok panutan. Dan saya sangat merasakan suasana hati anak-anak,” katanya.

Yuyun mengaku kegiatan ini digelar sebagai rasa hormat pada ibu. Sebab saat ini tingkat kesopanan anak pada orang tua minim. Adanya gadget justru menjauhkan orang tua dan anak. Sehingga kurangnya komunikasi anak dan orang tua.

“Kegiatan ini diharapkan bisa mendekatkan kembali antara ibu dan anak di sini,” imbunya.

Sementara itu Kokor mengaku peringatan hari Ibu dilakukan oleh warga Tanjung, Nguter. Sungkeman dan merangkul ibu ini diharapkan bisa mendekatkan ibu dan anak.

“Hari ini kita menyadari surga di telapak kaki ibu itu nyata. Kami akui di dunia ini butuh bimbingan serta dukungan seorang ibu,” katanya.

Melalui kegiatan ini Koko berharap ada kesan positif yang bisa diambil. Apalagi peserta terlihat antusias. Dan perjuangan seorang ibu tersebut yang ingin Kokor tampilkan. Apalagi peran ibu sering terlupakan dan terpinggirkan.

“Jika tidak di kegiatan ini kapan anak akan sungkem dan memeluk ibu? Kesan mendalam kehangatan seorang ibu itu menjadi inti kegiatan ini. Agar anak bisa lebih menghargai orang tua juga,” ujarnya. (rgl/bun)  Editor : Perdana Bayu Saputra
#hari ibu #menangis #desa tanjung #sungkem #maaf