Pembangunan sanggar dilakukan sejak November lalu. Setidaknya terdapat 30 ABK beserta keluarganya dan 25 penyandang disabilitas bernaung di sanggar tersebut.
"Bantuan pemkab Rp 300 juta langsung kami realisasikan untuk pembangunan sanggar dengan luas 9x13 meter persegi,” terang pengelola Sanggar Inklusi Tunas Bangsa Puji Handayani.
Menurutnya, penyandang disabilitas yang bernaung di sanggar berusia produktif. Mereka tidak hanya berasal dari Sukoharjo, tapi juga Wonogiri.
"Setiap Senin sampai Jumat kami mengadakan kegiatan. Mulai dari terapi, kelas pengembangan, peer motivation, kegiatan luar kelas, juga advokasi. Termasuk mengadakan forum orang tua untuk memotivasi bahwa ABK perlu didukung dan dirangkul," urai Puji.
Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya mengaku berkomitmen dan konsisten memberdayakan penyandang disabilitas. Selain bantuan dana, pemkab menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Disabilitas, desa inklusi dan jaminan kesehatan.
"Ada pula penyaluran modal usaha sebagai upaya pemberdayaan penyandang disabilitas. Ini sebagai bentuk pemajuan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi serta kebebasan bagi penyandang disabitas," terang Wardoyo dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional di Graha Satya Praja.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo Djoko Indriyanto menambahkan, pemkab, swasta dan masyarakat perlu bersinergi mewujudkan kesetaraan hak asasi penyandang disabilitas.
“Kami berharap ada peningkatan pemahaman kepedulian dan keberpihakan negara dan seluruh komponen masyarakat terhadap penyandang disabilitas," kata dia.
Bantuan lain yang diberikan pemkab antara lain kursi roda, alat dengar khusus, alat bantu dengar biasa, kaki palsu, pangan nontunai, dan lainnya. (rgl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra