“Pemeriksaan kami lakukan periodik. Termasuk pada pintu air. Seperti di Wonogiri, Dam Colo, dan lainnya,” ujar Staf Divisi Jasa ASA III BBWSBS Marturiawan Kristyono Putro, Jumat (10/1).
Pengecekan tersebut guna memastikan tidak ada rekahan maupuan sarana prasarana (sarpras) yang rusak. Bila ditemukan kerusakan, segera diperbaiki dan dilaporkan ke pemerintah pusat. “Kami pastikan alat serta sarana prasarana pengendali air dalam kondisi baik dan bisa digunakan," jelasnya.
Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan, hasil pemetaan daerah rawan, ada enam kecamatan yang berisiko. Yakni Weru, Sukoharjo, Polokarto, Mojolaban, Grogol dan Baki.
“Kami berencana membuat posko terpadu siaga darurat bencana dan menyiapkan alokasi pengadaan logistik senilai Rp 40 juta," ungkap dia. Pemetaan juga dilakukan di tanggul rawan ambrol. Seperti tanggul Sungai Sikapel, Sungai Situri, Sungai Samin, Sungai Situri dan Sungai Dengkeng di Kabupaten Klaten yang muaranya di Serenan, Bulakan, Sukoharjo.
Camat Grogol Bagas Windaryatno mengaku telah melakukan sosialisasi tanggap bencana di desa-desa rawan banjir. Antara lain Kadokan, Telukan, Pandeyan, Madegondo, Cemani dan Sanggrahan. Tanggul rawan ambrol di Pandeyan juga diantisipasi. (rgl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra