Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jangan Terlambat Tangani Kasus Leptospirosis, Kerap Dikira Masuk Angin

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 2 Februari 2020 | 20:57 WIB
Photo
Photo
SUKOHARJO – Tak jarang pasien leptospirosis terlambat berobat. Mereka menyangka cuma masuk angin sehingga hanya mengonsumsi obat yang dibeli di warung terdekat.

"(Kasus leptospirosis) di Kartasura memang perlu diwaspadai. Apalagi tahun lalu ada tiga orang meninggal. Gejalanya dianggap sama dengan masuk angin. Jadi tidak segera diperiksakan. Masyarakat justru memilih minum obat warung," urai Programer Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2TVZ) Puskesmas Kastasura Bagus Panuntun.

Menurut Bagus, penyakit yang disebabkan bakteri leptospira dan disebarkan antara lain lewat kencing tikus cukup asing di masyarakat. Sebab itu, pihaknya akan gencarkan sosialisasi tentang bahaya leptospirosis. Terutama kepada kader PKK serta pengurus RT dan RW.

Tahun ini, sebanyak tujuh desa menjadi target sosialisasi. Yakni Desa Singopuran, Gonilan, Pabelan, Kertonatan, Pucangan, Gumpang, dan Wirogunan. Lima desa lainnya telah mendapat sosialisasi pada 2019, yaitu Makamhaji, Ngadirejo,Kartasura, Ngabeyan dan Ngemplak.

"Target kami selama dua tahun ini ada 12 desa yang mendapat sosialisasi. Semoga bisa menekan kasus leptospirosis. Selama ini informasi leptospirosis masih minim. Ditambah gejalanya baru muncul setelah tujuh hari," jelasnya.

Materi sosialisasi tidak hanya terkait gejala, tapi juga cara penularan, upaya pencegahan, pengendalian dan pemberantasan tikus. “Kami menyayangkan banyak bangkai tikus dibuang ke jalan. Ketika hujan dan ada genangan bisa berbahaya (berpotensi sebarkan bakteri). Selain itu, meniadakan kebutuhan makan dan tempat perkembangbiakan tikus serta mendesain rumah dengan rootprofing juga penting,” tegas dia.

Ditambahkan Bagus, di salah satu rumah sakit di Kartasura, terdapat empat pasien leptospirosis. Salah satunya, warga Desa/Kecamatan Kartasura, sedangkan tiga lainnya warga luar daerah seperti Colomadu, Karanganyar.

"Dilihat dari gejalannya sudah jelas (terjangkit leptospirosis). Ditemukan luka di kaki dan pekerjaannya (pasien) bersinggungan dengan tempat tinggl tikus. Mata pasien sudah menguning dan kencingnya sedikit. Beruntung tidak sampai terjadi kerusakan ginjal," tuturnya.

Kepala Dinkes Sukoharjo Yunia Wahdiyati mengingatkan masyarakat selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Terutama dalam merawat luka. Bila terpaksa bersinggungan dengan daerah lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus, harus menggunakan pengaman secara baik dan benar.

"Bakteri leptospirosis bisa masuk ke tubuh melalui luka. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Jika ada bangkai tikus lebih baik dikubur agar jika tikus terinfeksi bakteri leptospira tidak menyebar," tandas dia.

Gejala penyakit ini seperti panas atau deman dengan tubuh terasa ngilu disertai batuk dan flu. Berlanjut gejala kuning pada kulit, kelopak mata, dan mata, serta susah buang air kecil. Bila mengalami kondisi tersebut harus segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sekadar informasi, pada 2019, kasus leptospirosis di Kecamatan Kartasura tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya. Yakni dengan sembilan penderita dengan tiga orang meninggal dunia. Terbaru, ada empat pasien leptospirosis masih dirawat di rumah sakit kawasan Kartasura. (rgl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#dinkes sukoharjo #leptospirosis #sosialisasi #gejala