Selama ini, Kota Makmur dengan luas wilayah sekitar 466 kilometer persegi memiliki sepuluh RS. Sembilan di antaranya adalah rumah sakit swasta. Rumah sakit tersebut terkonsentrasi di bagian tengah dan utara.
"Seperti di Grogol, Bendosari, dan Sukoharjo kota. Yang di utara seperti Kartasura," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukoharjo Yunia Wahdiyati, kemarin.
Menurutnya, rasio ketersediaan jumlah tempat tidur yang dimiliki seluruh RS dibanding jumlah penduduk adalah cukup. Tapi, jika dilihat dari luas wilayah, maka sebaran RS belum merata. "Di daerah selatan, seperti Bulu, Weru belum ada rumah sakit,".
Di lain sisi, Sukoharjo memiliki 12 puskesmas. Sejak Desember 2018, seluruh puskesmas sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sehingga mengelola keuangan secara mandiri dan dinyatakan telah terakreditasi. "Dari 12 puskesmas, 10 puskesmas dilengkapi fasilitas rawat inap," terang Yunia.
Belum lama ini, Ketua DPRD Sukoharjo Wawan Pribadi mengakui layanan kesehatan masih terfokus di bagian tengah dan utara, sedangkan bagian selatan seperti Nguter, Bulu, Weru, dan Tawangsari masih minim. Sehingga kebutuhan layanan fasilitas kesehatan perlu disiakan dari sekarang.
“Tentu saja kami butuh (penambahan rumah sakit). Apalagi daerah selatan belum ter-cover. Kalau masyarakat daerah selatan harus ke Sukoharjo atau ke Grogol yang banyak rumah sakit kan jauh,” tegasnya.
Ditambahkan Wawan, meski belum terlalu mendesak, rencana jangka panjang untuk mendirikan rumah sakit tipe C di wilayah selatan harus dipikirkan sejak sekarang. Tujuannnya meratakan layanan RS. Ketua dewan mengapresiasi langkah DKK membuka layanan ranap di puskesmas. Terutama di wilayah selatan. (kwl/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra