Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Munjung, Bentuk Penghormatan ke Yang Lebih Tua

Perdana Bayu Saputra • Rabu, 27 Mei 2020 | 19:03 WIB
Photo
Photo
Banyak daerah yang memiliki tradisi unik saat Lebaran. Termasuk di Kota Makmur. Yakni Munjung. Adalah tradisi mengantar makanan ke tempat orang tua atau orang yang dituakan. Biasanya, menunya antara lain nasik, lauk-pauk, dan sayur kesukaan orang yang akan dipunjung.

NAMUN, di masa tanggap darurat Covid-19 ini, tradisi munjung bisa jadi tertahan karena sejumlah penerapan aturan pemerintah. Seperti  larangan seperti jaga jarak dan larangan mudik. Anak di tanah rantau, bisa jadi tidak bisa munjungi orang tuanya, paman, bibi, kakek-nenek, maupun orang dituakan lainnya.

Munjung pada hakikatnya adalah sedekah. Tapi bukan berarti memberikan sesuatu kepada dhuafa. Tapi lebih memberikan penghormatan kepada orang yang dianggap tua.

Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum Idul Fitri. Ada pula setelah Idul Fitri. "Munjung artinya memberi secara lebih kepada orang tua. Sebelum Kebaran. Munjung bisa diartikan penuh atau kelebihan. Sebagai bakti cinta kepada orang tua atau yang dituakan," terang Bimo Kokor Wijanarko, budayawan sekaligus seniman asal Sukoharjo.

Menunya, lanjut Bimo, biasanya nasi sayur terik beserta lauk opor ayam maupun ingkung.

Namun, ada juga yang berbentuk beras, gula, teh. Meski berbeda, namun niatnya tetap sama yaitu berbakti kepada orang tua," ujarnya.

Bukan sekadar menghormati yang tua, tradisi munjung sarat dengan filosofi. Terutana pada jenis menunya, yakni sega lawuh artinya sendika dawuh (siap laksanakan) nasihat orang tua. Apem bisa diartikan ayem tentrem (tenang dan tenteram). Kolak gedang yakni sumilak ing pepadang. Berharap mendapat rahmat dan petunjung-Nya. Ingkung, berarti manekung atau berserah diri kepada Tuhan. (kwl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#munjung #penghormatan #tradisi