NAMUN, di masa tanggap darurat Covid-19 ini, tradisi munjung bisa jadi tertahan karena sejumlah penerapan aturan pemerintah. Seperti larangan seperti jaga jarak dan larangan mudik. Anak di tanah rantau, bisa jadi tidak bisa munjungi orang tuanya, paman, bibi, kakek-nenek, maupun orang dituakan lainnya.
Munjung pada hakikatnya adalah sedekah. Tapi bukan berarti memberikan sesuatu kepada dhuafa. Tapi lebih memberikan penghormatan kepada orang yang dianggap tua.
Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum Idul Fitri. Ada pula setelah Idul Fitri. "Munjung artinya memberi secara lebih kepada orang tua. Sebelum Kebaran. Munjung bisa diartikan penuh atau kelebihan. Sebagai bakti cinta kepada orang tua atau yang dituakan," terang Bimo Kokor Wijanarko, budayawan sekaligus seniman asal Sukoharjo.
Menunya, lanjut Bimo, biasanya nasi sayur terik beserta lauk opor ayam maupun ingkung.
Namun, ada juga yang berbentuk beras, gula, teh. Meski berbeda, namun niatnya tetap sama yaitu berbakti kepada orang tua," ujarnya.
Bukan sekadar menghormati yang tua, tradisi munjung sarat dengan filosofi. Terutana pada jenis menunya, yakni sega lawuh artinya sendika dawuh (siap laksanakan) nasihat orang tua. Apem bisa diartikan ayem tentrem (tenang dan tenteram). Kolak gedang yakni sumilak ing pepadang. Berharap mendapat rahmat dan petunjung-Nya. Ingkung, berarti manekung atau berserah diri kepada Tuhan. (kwl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra