Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Usaha Baglog Jamur Menjanjikan

Perdana Bayu Saputra • Rabu, 24 Maret 2021 | 20:43 WIB
ULET: Landung di tempat produksi baglog jamur di Jogosari, RT 3 RW 10, Gayam, Sukoharjo Kota. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
ULET: Landung di tempat produksi baglog jamur di Jogosari, RT 3 RW 10, Gayam, Sukoharjo Kota. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)


SUKOHARJO - Pandai menangkap peluang dan tekun, merupakan dua kunci menuju sukses. Itu dibuktikan Landung Catur Karyoto. Berawal dari buruh bangunan, kini, pria 45 tahun itu menjadi juragan jamur dan memiliki 12 pekerja.






Pagi itu, railbus Bathara Krisna baru saja melintas ketika Landung dan sejumlah pekerjanya mencampur serbuk gergaji, bekatul dan kapur. Tempat produksi baglog atau media tanam jamur ini berada di tepi rel railbus tepatnya di Jogosari, RT 3 RW 10, Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo Kota.




"Awalnya ikut pelatihan pembuatan baglog jamur tiram di Kaliurang (Jogjakarta). Lalu, sejak 2003 mulai menekuni usaha ini. Sudah lama juga," ujar Landung mengawali perbincangan.




Tempat usaha Landung cukup mudah ditemukan. Tepat sebelah timur traffic light Terminal Sukoharjo Kota. Berderet tumpukan baglog jamur menyita pandangan mata karena lokasi gudangnya berada di pinggir jalan raya.

Sebelum memulai usaha tersebut, Landung bekerja sebagai kuli bangunan, terkadang juga menjadi sopir. "Dulu modal awal Rp 7 juta. Alat steam baglog hanya dari drum bekas," kenangnya.

Sambil memerika baglog yang sudah dikemas dalam plastik, Landung teringat ketika kali pertama membuka usaha hanya mampu memproduksi 400 baglog jamur per hari.

Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya oreder, dia sanggup memproduksi 4000 baglog per hari. Kualitas alat steam baglog meningkat menggunakan mesin.

Untuk membuat baglog jamur berkualitas, bahan baku dipilih yang terbaik. Untuk serbuk gergaji, Landung mendatangkan dari Temanggung dan kapurnya dari Gunung Kidul. Bekatul didapatkan dari penggilingan padi sekitar Kota Makumr.

Mencampur bahan-bahan tersebut tidak bisa sembarangan, Pakai rumus, yakni untuk 1 kuintal serbuk gergaji, dicampur 20 persen bekatul dan 5 persen kapur.

"Serbuk gergaji yang bagus dari kayu sengon, karena pelapukannya lebih cepat. Kalau kayu keras, lebih lama," katanya.

Baglog buatan Landung dipasarkan ke Karanganyar, Gunung Kidul, Klaten hingga ke Denpasar. Harganya relatif murah, hanya Rp 2.000 per baglog. Per bulan, dia bisa mengantongi laba bersih Rp 15 juta per bulan. Tentunya sudah dipotong gaji pegawai dan biaya produksi lainnya. "Sebulan 26 hari kerja, per bulan bisa 90 ribu baglog," tuturnya.

Setelah membeli baglog tersebut, petani tinggal melakukan perawatan, karena sudah dicampur dengan benih jamur. Cukup siapkan rak-rak penyimpanan dalam tempat yang lembab dan disiram secara teratur.

"Tinggal perawatan. 50 hari bisa panen perdana. Selanjutnya, setiap 16 hari sekali bisa panen. Satu baglog bisa sampai lima kali panen,” ungkapnya.

Landung memiliki tiga kumbung (tempat budidaya jamur) berkapasitas 15 ribu baglog. Lokasinya di Polokarto dengan produksi jamur tiram dan jamur kuping.

Untuk jamur kuping, dipasarkan hingga Malang dan Bandung, sedangkan jamur tiram guna memenuhi order pasar lokal. Selain sebagai tempat usaha, produksi baglog jamur milik Landung kerap dijadikan lokasi belajar para mahasiswa. Landung membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang mau belajar.

"Prinsipnya, kalau kita memudahkan orang, kita juga akan dimudahkan," ujarnya.

Landung menyebut usahanya masih relatif kecil dibandingkan petani jamur lain di Sukoharjo. Keterbatasan lahan menjadi tantangannya. Dia menargetkan bisa ekspor ke luar negeri. (kwl/wa)



(rs/kwl/per/JPR) Editor : Perdana Bayu Saputra
#radar solo #usaha baglog jamur #pelatihan membuat jamur #harga jamur #usaha budidaya jamur #jawa pos #jamur kuping #jamur tiram