Pelaksana Tugas ( Plt) Camat Sukoharjo Havid Danang mengatakan, banjir terjadi sejak Kamis (15/4), setelah hujan deras. Jalan utama dan permukiman di kelurahan setempat tergenang. "Hasil sidak kami dengan warga, ada beberapa titik (infrastruktur) yang perlu dilakukan pembenahan, seperti gorong-gorong di utara PT Sritex," ungkapnya, Jumat (16/4).
Terjadi pendangkalan di drainase tersebut, sehingga menyumbat aliran air dari timur ke barat. Selain itu, anak sungai yang tembus ke Kali Langsur, pintu airnya rusak dan menyebabkan aliran sungai terbendung.
“Air meluap hingga ke area perasawahan dan perkampungan warga. Kami akan lakukan komunikasi dan perbaikan penanggulangan banjir ini, sudah koordinasi dengan DPU (Dinas Pekerjaan Umum Sukoharjo) dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. Kami minta upayakan normalisasi Kali Langsur karena sudah terjadi pendangkalan yang luar biasa," beber camat.
Lebih lanjut diterangkan Havid, genangan air menyebabkan sekitar 400 hektare sawah di Kecamatan Sukoharjo terancam puso.
Selain ancaman gagal panen, petani juga dibayang-bayangi kualitas hasil panen buruk. Sebab, gabah mengandung banyak air.
Sugiyo, 50, warga di Kampung Tambakrejo RT 05 RW 06, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, mengeluhkan banjir yang hampir tiap tahun banjir merendam rumahnya.
"Ini mancing (aksi memancing) sebagai bentuk protes karena sering banjir. Ikannya ya nggak ada," ucapnya.
Menurutnya banjir pada Jumat (16/4) lebih tinggi dibandingkan, Kamis (15/4). Air yang masuk ke dalam rumah memaksa Sugiyo yang bekerja sebagai sopir material izin tak masuk kerja. “Barang-barang di dalam rumah saya nakikan biar nggak terendam,” tuturnya.
Sugiyo memperkirakan genangan baru surut, Sabtu (17/4). Namun, ketika kembali hujan, air akan naik lagi. Padahal, saat ini saja, banjir yang masuk ke rumahnya setinggi 10 sentimeter. "Di rumah tetangga, air bisa mencapai pinggang orang dewasa," tandas dia. (kwl/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra