Pada 2000 kasus kematian ibu kembali naik menjadi 57,08. Penyebabnya antara lain komplikasi/penyakit yang diderita ibu seperti hepatomegali, trail, dan emboli air ketuban.
Itu terungkap dalam dokumen rancangan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2021-2026 Sukoharjo.
Untuk angka kematian bayi periode 2016-2020 juga fluktuatif, yakni dari 9,94 per 1.000 kelahiran didup pada 2016 menjadi 5,49 per 1.000 lelahiran hidup pada 2019, sedangkan di 2020 naik jadi 7,49.
Adapun penyebab kematian bayi, yaitu badan lahir rendah, kelainan congenital, asfiksia, sepsis kejang, muntaber, dehidrasi, serta faktor lainnya.
Berikutnya, angka kematian balita per 1.000 kelahiran hidup selama 2016-2020 menunjukkan tren penurunan dari 10,82 pada 2016 menjadi 7,25 pada 2019. Namun pada 2020 mengalami kenaikan menjadi 8,88.
Penyebab kematian balita terbanyak pada kasus komplikasi/penyakit dan kasus kecelakaan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo Yunia Wahdiyati menjelaskan, beragam strategi dilakukan untuk menekan kasus kematian ibu, bayi, dan balita. Seperti peningkatan status kesehatan, gizi yang baik, lingkungan sehat, termasuk mendekatkan layanan posyandu.
"Jumlah posyandu 1.190, jumlah balita 12.262. Rasio posyandu persatuan balita 1:10. Masih kurang sedikit. Tapi bukan karena kurangnya jumlah posyandu yang membuat kenaikan angka kematian ibu, bayi dan balita meningat," kata Yunia.
Ditambahkan kadinkes, tahun lalu, rasio puskesmas, poliklinik, dan pustu terhadap jumlah penduduk sebesar 1:5.482, semakin kecil dibanding 2015, yakni 1:6.7425.
Ini disebut menandakan pelayanan kesehatan tingkat pertama semakin optimal. (kwl/wa/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra