IWAN KAWUL, Sukoharjo, Radar Solo
Mata Ashar Al Ghifari Putra Setiawan tampak berkaca-kaca ketika Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho memberikan tas sekolah lengkap dengan buku-buku pelajaran, mainan, dan makanan kecil. Ya, siang kemarin Ghifari (panggilan akrabnya) diangkat sebagai anak asuh Polres Sukoharjo.
“Kami mendapatkan informasi dari masyarakat ada warga kami, seorang anak yang menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal terpapar Covid-19 dalam waktu hampir bersamaan. Lalu kami sepakat mengangkat dia sebagai anak asuh,” ungkap Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho saat memberikan keterangan pers di Mapolres Sukoharjo, Selasa (27/7).
Ghifari yang duduk di kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Sukoharjo ini sengaja dihadirkan di Mapolres Sukoharjo didampingi budenya Eni Sulistiyowati, kakak dari ayah Ghifari. Dia dijemput Babinkamtibmas Kelurahan Sukoharjo dari rumahnya di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo. Tak jauh dari mapolres setempat.
Ghifari nampak senang saat diberi sejumlah hadiah mobil-mobilan dan perlengkapan sekolah, juga sejumlah uang dari kapolres. Dia sedikit terhibur dan melupakan sejenak perasaan sedih yang dialami setelah ditinggal pergi orang tercinta.
“Cita-cita Ghifari pingin jadi apa ?" Tanya Kapolres. Langsung dijawab Ghifa, "Polisi". Ini langsung disambut syukur dan diamini yang hadir di mapolres.
Kapolres berpesan kepada babinkamtibmas untuk memantau kebutuhan Ghifari baik kebutuhan sekolah maupun sehari-hari. Polres berkomitmen akan selalu mendukung pembiayaan Ghifari baik dari internal polres maupun mengakomodasi dukungan dari pihak dan instansi yang lain.
“Hasil swab Ghifari negatif, saat kedua orang tuanya sakit, dia tinggal bersama budenya," ujarnya.
Di tempat yang sama, sambil terbata-bata, Eni Sulistiyowati mengatakan, kedua orang tua Ghifari meninggal hanya berselang dua hari. Sedangkan kakeknya meninggal di hari yang sama dengan ayahnya. Kisah memilukan tiga orang meninggal dunia dalam satu keluarga ini berawal dari Haryati mengaku tidak enak badan. Dan mengira hanya masuk angin biasa.
“Saya tanya keadaannya di bagaimana katanya sudah baik, tidak sesak juga, tapi semakin ke sini kondisinya ngedrop. Lalu dibawa ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sukoharjo. Namun di sana tidak ada oksigen jadi saya bawa ke RSUD Ir Soekarno,” katanya, Selasa (27/7).
Sambil sesekali menyeka air matanya, Eni menceritakan, saat dibawa ke RSUD Ir Soekarno Sukoharjo, saturasi oksigen dalam darah hanya 44. Sehingga disarankan ke rumah sakit di wilayah Kota Solo. Hingga akhirnya Haryati dirawat di RSUD Dr Moewardi Surakarta setelah dinyatakan terkonfirmasi positif virus Covid-18. Haryati kemudian menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan virus korona pada Rabu (21/7).
“Setelah ibunya (Haryati) meninggal, menyusul kakek Ghifari (Sutrisno). Juga terkonfirmasi positif virus Covid dan dirujuk ke RSUD Ir Soekarno. Selang dua hari dirawat, tepatnya Jumat (23/7), juga meninggal," katanya.
Lalu, pada hari yang sama, ayah Ghifari, Budi Setiyawan juga mengalami gejala batuk, demam, dan sesak napas. Namun sayangnya saat dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo, dia dikembalikan ke rumah karena kondisi rumah sakit penuh pasien. Padahal, saat itu kondisi dia mengalami penurunan saturasi oksigen dalam darah sudah diangka 72. Saat dibawa ke rumah itulah nyawanya tidak tertolong selang beberapa jam setelah Sutrisno tiada. “Sekarang, Ghifari akan tinggal bersama saya,” kata Eny. (*/bun) Editor : Damianus Bram