Sampah yang menyumbat bendungan didominasi akar-akar pohon (dangkel) dan rumpun bambu (barongan). Warga setempat mengaku bendung sudah biasa tersumbat.
"Ya seperti ini, banyak kayu, bambu. Terbawa air dari atas," kata Mujiono, 67, warga setempat, Senin (18/10).
Kepala Desa Tegalsari, Kecamatan Weru Nugroho Dwi Susilo mengatakan, tumpukan sampah itu menghambat aliran air dan berpotensi menyebabkan banjir di musim penghujan.
"Sudah kami laporkan. Balai Besar (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo), pemerintah desa dan DPU (dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat) telah duduk bersama membicarakan masalah itu," terangnya.
Pemerintah desa meminta sampah dibersihkan secepatnya. Mengingat telah mendekati musim hujan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto mengaku segera mengecek lokasi. Ditambahkannya, hulu Sungai Siliwur berada di Desa Krajan, Kecamatan Weru. Berbatasan dengan Gunung Kidul, Jogjakarta. “Kami mengimbau warga di sepanjang Sungai Siluwur tidak membuang sampah ke sungai,” jelasnya.
Untuk diketahui, Bendungan Siluwur sudah dibersihkan dari sampah pada Februari lalu melibatkan BPBD Sukoharjo, dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, SARPMI, TNI-Polri, relawan, dan pemerintah desa dan waga setempat. (kwl/wa/dam) Editor : Damianus Bram