Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo Yunia Wahdiyati mengatakan, hingga minggu ke 40 tahun ini setidaknya 164 orang positif terjangkit DBD. Dari jumlah itu, sembilan meninggal dunia.
"Minggu ke 40 ini ada tambahan satu orang meninggal dunia, dari Kecamatan Sukoharjo kota," kata Yunia Wahdiyati, Minggu (24/10).
Menurut Yunia, kasus DBD minggu ini menurun dari minggu sebelumnya, tetapi saat ini kalau dilihat hujan mulai turun maka harus waspada. Terutama, harus menjaga kondisi tubuh dengan melaksanakan gerakan masyarakat hidup sehat dan berperilaku hidup bersih agar bisa kendalikan penyakit menular.
"Minggu ke 39 ada tujuh kasus, sedangkan minggu ke 40 ada tiga kasus, satu di antaranya yang meninggal dunia," ungkapnya.
Yunia mengaku sudah mengerahkan pemantauan jentik nyamuk, yakni kader dan masyarakat pemantau jentik di kawasan berisiko tinggi. Selain itu, penggunaan teknologi tepat guna dengan pemasangan ovitap (perangkap telur nyamuk) dari barang bekas untuk mengurangi populasi nyamuk.
"Ada tiga kecamatan endemis DBDB. Yakni, Kartasura, Grogol, dan Sukoharjo kota," bebernya.
Yunia mengakui mindset masyarakat Sukoharjo masih fogging minded. Kalau ada kasus ingin segera dilakukan fogging di lingkungannya. Padahal, fogging dilakukan tidak asal-asalan.
"Padahal fogging itu ada persyaratannya dan selektif. Jangan sedikit-sedikit minta fogging," kata Yunia.
Yunia menyebut, alasan harus terselektif karena obat yang digunakan untuk fogging bisa menyebabkan dampak resistensi terhadap nyamuk dan membahayakan lingkungan. Karena dosis obatnya tinggi.
"Kalau kita menyemprot nyamuk di dalam rumah, penghuni wajiba keluar rumah dulu. Apalagi fogging dampaknya lebih luas,” ujarnya.
Yang harus dilakukan sebenarnya adalah dengan memberantas sarang nyamuk. Yaitu menguras bak mandi, mengubur botol bekas dan membersihkan lingkungan agar nyamuk tidak berkembang biak. Sedangkan fogging, hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan jentik nyamuknya tidak mati.
"Kalau jentiknya jadi dewasa maka akan kebal dengan situasi sering di-fogging. Inilah kenapa fogging tidak selalu menjadi pilihan utama untuk pemberantasan nyamuk. PSN yang penting," tegas Yunia.
Yunia juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak tergiur dengan fogging mandiri dari swasta. Harus dipastikan betul, kasus yang ada di lingkungan itu benar-benar kasus DB dari keterangan resmi rumah sakit.
Camat Sukoharjo Kota Havid Danang PW membenarkan salah satu warganya dari Kelurahan Bulakrejo meninggal dunia karena DBD. Atas kejadian ini pihaknya sudah mengerahkan jumantik (juru pemantau jentik).
"Jumantik sudah kami kerahkan. Per RT sudah ada jumantik," kata Havid.
Havid menambahkan, pekan ini masyarakat Sukoharjo kota sudah mulai menggalakan PSN. Terutama di kelurahan-kelurahan yang padat penduduk. Ini untuk mencegah agar tidak terjadi lagi kasus DBD hingga merenggut nyawa. (kwl/bun/dam)
Kasus DBD di Sukoharjo
- 164 Orang terjangkit DBD hingga minggu ke 40
- 9 Meninggal dunia karena DBD
Wilayah Endemis
- Kecamatan Kartasura
- Kecamatan Grogol
- Kecamatan Sukoharjo
Pencegahan
- Menerjunkan juru pemantau jentik (jumantik) ke rumah warga
- Pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M
- Kerja bakti membersihkan lingkungan