Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tanah Kas Desa Bakalan yang Dulu Gersang, Kini Jadi Wahana Rekreasi Andalann

Syahaamah Fikria • Sabtu, 19 Februari 2022 | 19:35 WIB
WAHANA BARU: Anak-anak berenang di Baklibay, Desa Bakalan, Polokarto, Karanganyar, kemarin (18/2). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
WAHANA BARU: Anak-anak berenang di Baklibay, Desa Bakalan, Polokarto, Karanganyar, kemarin (18/2). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Tanah kas Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto, Karanganyar mayoritas gersang dan tidak produktif. Oleh pemerintah desa (pemdes) setempat, lahan tersebut dimanfaatkan untuk wahana rekreasi dan taman. Namanya Bakalan Litle Bay (Baklibay). Hasilnya, bisa menambah pendapatan asli desa (PADes).

Lahan kas desa Bakalan yang dikembangkan, seluas 7.000 meter persegi. Mulai digarap sekitar 2018 silam. Awalnya, digelontorkan dana desa (DD) Rp 280 juta untuk pembuatan kolam renang.

Mengingat anggaran yang dipakai cupet, tak pelak proyek kolam renang yang terintegrasi dengan taman tersebut tak kunjung rampung. Harus dibangun secara bertahap, demi menjaga stabilitas keuangan desa.

Lamanya waktu pembangunan, banyak menuai kritik dari masyarakat. Mulai dari dikira mangkrak, tidak berguna, dan buang-buang anggaran. Padahal, memang butuh waktu dan proses penganggaran setiap tahunnya.

“Mulai November 2021 sudah mulai uji coba kolam renang. Ada tiga buah kolam untuk anak-anak sampai dewasa, dengan kedalaman bervariasi. Bahkan kolam dewasa mulai digunakan untuk les renang, sekaligus mencetak bibit atlet,” kata Kepala Desa (Kades) Bakalan Murdiyanto.

Murdiyanto mengakui, sebelum dibangun kolam renang, tanah bengkok tersebut kurang memberi pemasukan bagi desa. Bahkan sudah puluhan tahun tidak ditamani.

“Ya, sudah berkali-kali coba ditanami, tapi tidak pernah berhasil. Kalaupun bisa, hasil panen rendah. Lalu kami mencoba buat wahana wisata berupa kolam renang,” imbuh Murdiyanto.

Konsepnya, lahan tersebut akan dibangun taman terpadu. Di awal pembangunan, berupa pengurukan tanah dan batu pertama. Konsep taman terpadu tersebut akan dilengkapi tempat bermain anak, ruang publik, selter kuliner, hingga aneka wahana rekreasi.

“Nanti setelah kolam renang, kami tambah taman rekreasi. Termasuk membuat ruang publik untuk menampung kreativitas warga Bakalan. Selter kuliner juga ada untuk berjualan warga sekitar,” urai Murdiyanto.

Pembangunan terus berlanjut hingga 2019, 2020 sampai 2021. Perlahan, beragam fasilitas penunjang dibangun. “Khusus kolam renang, total anggaran sejak 2018 sampai 2021 mencapai sekitar Rp 1 miliar. Sedikit demi sedikit setiap tahun kami anggarkan dari APBDes. Karena kalau langsung setahun anggaraan, dana desa tidak akan cukup untuk mengkaver semuanya,” bebernya.

Keberadaan kolam renang ini terbukti mampu menjadi sumber PADes. Laba bersihnya sekitar Rp 10 juta per bulan. Kendati demikian, saat ini kolam renang tersebut masih dikelola tim khusus bentukan pemdes. Belum diserahterimakan ke badan usaha milik desa (BUMDes).

“Itu labar bersih, sudah dipotong biaya operasional seperti listrik dan lain-lain. Pendapatan didapatkan dari tiket masuk Rp 5.000 per orang,” ungkapnya. (kwl/fer/ria)

  Editor : Syahaamah Fikria
#tanah kas desa #PADes #desa bakalan #polokarto #kolam renang #mbangun desa #kawasan rekreasi #baklibay