Di Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, sejumlah warga desanya menjadi produsen gempol pleret. Produk gempol pleret ini biasa dibeli para pedagang es gempol pleret di Sukoharjo, Solo, dan sekitarnya.
”Warga di sini ada sekitar sembilan produsen gempol pleret saja. Ada juga sekitar 15 yang produsen sekaligus berjualan es gempol pleret. Kalau saya, dulu ya jualan es gempol pleret. Tapi sekarang fokus bikin gempol pleret saja,” kata Surani, 57, warga Desa Karangwuni.
Gempol pleret berbahan utama dari tepung beras akan menghasilkan sensasi mengenyangkan meskipun menjadi olahan es. Gempol sendiri berukuran sebesar ibu jari kaki, semacam gumpalan nasi berwarna putih berbentuk oval pipih. Sedangkan pleret, juga berbahan tepung beras. Hanya saja dalam adonan ditambah gula Jawa. Pleret berbentuk gulungan tipis, sebesar jari kelingking.
Cara pembuatannya dengan diplintir di atas daun pisang. Hasil plintiran lalu digulung, menyerupai kue astor tapi pendek. Gempol rasanya asin dan akan bertambah gurih jika dimakan bersama kuah santan. Sedangkan pleret rasanya manis, akan menjadi manis gurih jika santap bersama kuah santan.
”Kalau bikin gempol, bahannya beras, dicuci bersih lalu ditiriskan selama dua jam, kemudian digiling. Lalu, dikukus 20 menit. Bumbunya cuma garam dan pandan. Selanjutmya dikepal sebesar bola kasti, lalu diuleni. Selanjutnya diparut dengan alat khusus baru dibentuk gempol. Bahan pleret sama, yang sudah dikukus, diuleni dengan gula jawa,” katanya.
Dalam sehari, Surani menghabiskan 15 liter beras untuk membuat gempol pleret. Bukan sembarang beras bisa dibuat gempol pleret. Beras yang dipilih adalah beras yang keras, jika dimakan jadi nasi tidak enak, namun akan nikmat jika dibuat gempol.
”Berasnya beras Sumatera, berasnya keras. Dimakan jadi nasi ga enak, tapi enaknya dibikin gempol,” katanya.
Selain penjual es gempol pleret, pelanggan Surani adalah para pengusaha katering yang kebanyakan dari Solo. Jika ada pesanan dari katering, biasanya mencapai 1.000 sampai 1.500 gempol.
”Saya jualnya paketan. 1 paket itu 100 gempol, 100 pleret harganya Rp 40.000. Para penjual es gempol pleret, biasanya dalam 1 mangkok itu ada 3 gempol dan 3 pleret. Semangkok biasanya Rp 5.000,” terangnya.
Gempol pleret dibuat tanpa bahan pengawet, jika tidal dimasukan dalam freezer, maka dalam sehari semalam akan basi. Namun, jika dimasukan dalam freezer, bisa tahan sepekan.
”Kalau dimasukan ke freezer bisa seminggu, kalau mau makan tinggal dikukus sebentar, baru dimasukan dalam es dawet,” tandasnya. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram