Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kesetiaan Pembuat Gempol Pleret: Dulu Jualan Keliling Kini Langganan Katering

Syahaamah Fikria • Senin, 2 Mei 2022 | 18:29 WIB
UNIK: Gempol pleret lebih nikmat disantap dengan es serta santan. Minuman ini banyak dijajakan di Solo hingga Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
UNIK: Gempol pleret lebih nikmat disantap dengan es serta santan. Minuman ini banyak dijajakan di Solo hingga Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
SUKOHARJO - Gempol pleret yang berbahan utama tepung beras memberikan sensasi mengenyangkan meskipun dicampur es. Yang disebut gempol adalah bulatan tepung beras berukuran sebesar ibu jari kaki. Sedangkan pleret, bahan tepung berasnya ditambah gula jawa dan bentuknya gulungan tipis, sebesar jari kelingking.

Cara membuat pleret, yakni dengan dipelintir di atas daun pisang. Hasil pelintiran lalu digulung. Rasa gempol yang asin bertambah gurih ketika disantap bersama kuah santan, sedangkan pleret rasanya manis, dan menjadi manis gurih saat dinikmati bersama kuah santan.

Menu tradisional ini ibarat darah daging bagi Surani, 57, warga Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto yang menjadi produsen gempol pleret. "Dulu jualan es gempol pleret di Pasar Kadipolo, Kota Solo. Tapi sekarang fokus bikin gempol pleret saja," ujarnya.

Ibu berkerudung ini mengaku sejak masih duduk di bangku SMP pada 1981 sudah berjualan gempol pleret. Surani berjualan bersama orang tuanya berkeliling Kota Semarang.

Setelah dewasa, dia mulai berjualan keliling secara mandiri. Surani belum pernah bekerja selain berjualan gempol pleret hingga kini usianya 57 tahun dan memiliki empat anak. Sang suami, Widodo, 59, dulunya juga berjualan keliling gempol pleret.

“Orang tua saya memberikan ilmu ini saja (membuat gempol pleret). Alhamdulillah, dengan jualan gempol pleret, anak bisa sekolah, lulus semua. Saat ini, anak-anak juga bisa membuat gempol pleret, hanya saja kurang sabar. Tapi kalau dapat pesanan banyak, semua turun tangan," urainya.

Dalam sehari, Surani menghabiskan 15 liter beras untuk membuat gempol pleret. Bukan sembarang beras bisa dibuat gempol pleret. Beras yang dipilih adalah beras yang keras, jika nasinya dikonsumsi kurang enak. Tapi beda cerita ketika dibuat gempol pleret. Mak nyuss…

Selain penjual es gempol pleret, pelanggan Surani adalah pengusaha katering yang mayoritas dari Solo. Jumlah pesanannya bisa mencapai 1.000-1.500 butir gempol.

"Saya jualnya paketan. Satu paket isinya 100 gempol dan 100 pleret. Harganya Rp 40 ribu. Penjual es gempol pleret biasanya mengisi satu mangkok terdiri dari tiga butir gempol dan tiga pleret. Semangkok biasanya Rp 5.000," terangnya.

Karena tidak menggunakan bahan pengawet, ketika gempol pleret tidak disimpan di dalam freezer akan mudah basi. Namun jika di-freezer bisa tahan selama sepekan.

"Kalau mau makan tinggal dikukus sebentar, baru dimasukan dalam es dawet," ungkap Surani.

Produsen sekaligus penjual es gempol pleret asal Desa Karangwuni, Polokarto, Paikem 40, mengaku menggeluti usahanya selama 20 tahun. Meneruskan bisnis yang dirintis orang tuanya. Dia biasa berjualan dengan cara berkeliling di Pasar Klewer, Kota Solo.

“Yang pertama jualan kakek buyut saya. Saya generasi ketiganya. Anak saya baru jualan lewat online,” ucapnya.

Paikem mulai memproduksi gempol pleret pada malam hari. Proses produksi butuh waktu hingga pagi hari atau sebelum berangkat berjualan. “Saya jualan keliling di Pasar Klewer, Solo dari pukul 10.00 - pukul 17.00," kata dia. (kwl/wa/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#karangwuni #Gempol Pleret #oleh-oleh #makanan tradisional #minuman jadul #sentra produksi gempol pleret