Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Penyebaran Islam di Kecamatan Polokarto, 3 Masjid Tua Jadi Saksi Perjuangan

Damianus Bram • Selasa, 3 Mei 2022 | 14:00 WIB
BERSEJARAH: Masjid Jami
BERSEJARAH: Masjid Jami
SUKOHARJO - Polokarto yang menjadi kecamatan terluas di Kabupaten Sukoharjo dengan luas 6.218 hektare atau 13 persen dari total wilayah  Kota Sukses, menarik dikulik. Terutama sejarah penyebaran Islamnya.

Di kecamatan yang dipimpin Heri Mulyadi ini berdiri tegak tiga masjid yang dibangun sejak 1800-an, yakni Masjid Jami' Kayuapak, Masjid Agung Jatisobo dan Masjid Agung Imam Syuhodo, Wonorejo.

Sesuai urutan pembangunan yang paling tua yaitu Masjid Jami' Kayuapak di Desa Kayuapak. Kemudian Masjid Agung Jatisobo di Desa Jatisobo, dan Masjid Agung Imam Syuhodo di Desa Wonorejo.

Tiga masjid itu memiliki sejarah yang saling berkaitan, baik pendirinya maupun arsitekturnya. "Bermula dari seorang ulama dari Gumpang, Kartasura. Menurut cerita secara turun temurun (masih perlu kajian sejarah lebih mendalam), ulama tersebut mempunyai nama kecil Muhammad Imam. Karena mengerti dan paham agama, dipanggil menjadi penasihat dan guru agama di Keraton Kartasura," tutur takmir Masjid Agung Jatisobo Adi Sarmoko, kemarin.

Setelah peristiwa geger Pecinan kemudian di serang VOC, seluruh kerabat Keraton Kartasura dan penggawanya mengembara. Termasuk Muhammad Imam. Dia menuju arah timur hingga menyeberangi Sungai Bengawan Solo.

"Menurut cerita turun temurun (Muhammad Imam) sempat menetap di Jatisari, wilayah Mojolaban. Mendirikan masjid, mensyiarkan Islam, mengembangkan ekonomi dan menikah di sana," ungkap Adi.

Karena kurang ramai, atau alasan lain, Imam melanjutkan perjalanan hingga ke Magetan, Jatim. Kemudian kembali lagi ke arah barat sekitar awal 1800-an. Mendirikan masjid di Desa Kayuapak (Masjid Jami' Kayuapak) dan menetap di daerah setempat.

"Di Kayuapak mendirikan masjid di tepi sungai. Karena terlalu curam, banyak santri yang tercebur saat wudu. Lalu mengembara lagi ke barat, ke wilayah Jatisobo yang dulunya kawasan hutan," katanya.

Imam lalu meminta izin ke pembesar Keraton Kartasura yang sudah pindah ke Solo pada masa Paku Buwono (PB) III dan IV untuk mendirikan masjid dan pondok pesantren.

Setelah diizinkan, Imam mendirikan Masjid Agung Jatisobo. Di depan masjid ada pasar dan berkembang menjadi perkampungan yang kemudian diberi nama Desa Jatisobo. "Di prasasti pintu masjid tertera tulisan berhuruf Arab, 1837," ungkap Adi.

Salah satu santri, sekaligus menantu Imam, yakni Imam Syuhodo turut mendirikan masjid di Wonorejo (Masjid Agung Imam Syuhodo). Berdasarkan dokumentasi para sesepuh Desa Wonorejo, yang tergabung dalam pada trah Kiai Imam Syuhodo Wonorejo telah mendapatkan pengesahan atas kebenarannya dari Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Jogjakarta, yakni trah Sri Susuhunan PB IV Surakarta (RM. Rio Yosodipuro) dan tepas darah dalem Keraton Jogjakarta (KRT Danidiningrat). Pengesahan dilakukan 1 Muharam 1400 hijriah atau 31 November 1979.

Sesuai dokumen trah Kyai Imam Syuhodo, Dusun Wonorejo berawal sejak pemerintahan Keraton Kasunan Surakarta pada masa Sri Susuhunan PB IV bertakhta, diperkirakan pada 1785 Masehi.

Pendiri Dusun Wonorejo adalah Kiai Imam Syuhodo Apil Qur’an dan diangkat menjadi wedana perdikan oleh Sinuhun PB IV dan dianugerahi tanah Honggobayan (masih hutan) yang berbatasan dengan Tanah Sukowati dan Tanah Keduang.

Imam Syuhodo diperintahkan membuka hutan untuk tempat tinggal dan mendirikan pondok pesantren lengkap dengan masjid. Kiai Imam Syuhodo diangkat menjadi ulama keraton dan guru mengaji Sinuhun PB IV.

Seiring berjalannya waktu, santri di pondok pesantren Kiai Imam Syuhodo bertambah banyak. Termasuk dari luar kota. Sinuhun PB IV kemudian memberikan restu untuk merevitalisasi masjid menjadi besar dan dibantu sebuah ompak bekas Keraton Kasunanan Surakarta, empat buah soko, dan tangga kayu sengkeran dalem dari hutan Donoloyo.

Berikutnya sebuah kubah (mustoko masjid) dari Masjid Kraton di Langenharjo, mimbar tempat khotbah, dan lampu katrol dari kaca bersumbu empat buah dari Keraton Kasunanan Surakarta.

“Menurut riwayat, Kiai Imam Syuhodo adalah anak bupati Kedu yang belajar agamadi Jatisobo kepada Kiai Khotib Iman (Muhammad Imam) hingga hafal Alquran. Kemudian dipanggil Sinuhun PB IV ke Keraton Kasunanan Surakarta untuk memastikan apakah benar hafal Alquran. Setelah benar hafal Alquran, lalu diminta kembali. Kemudian Imam Syuhodo oleh Kiai Khotib Imam diminta babat alas di Wonorejo,” beber takmir Masjid Agung Imam Syuhodo Wonorejo, Parnoto. (kwl/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Penyebaran Islam di Sukoharjo #Masjid Jami' Kayuapak #Masjid Tua di Sukoharjo #Masjid Agung Jatisobo #Masjid Agung Imam Syuhodo