Sebelum berubah menjadi pusat esek-esek pada 1977, kawasan ini merupakan sebuah pemakaman etnis Tiongho. Lenih dikenal masyarakat sebagai Bong Cino. Berupa dua perbukitan kecil, yang dipisahkan jalan eks lori atau kereta api pengangkut tebu dari kawasan Boyolali ke Pabrik Gula (PG) Colomadu.
“Bukit sebelah utara namanya Gunung Pare dan yang selatan Gunung Tinggi. Di tengahnya ada jalan bekas rel lori. Bukan jalan aspal, hanya tatanan batu (makadam) saja,” kata Sugeng Sukamdi, 70, warga Dusun Tegalan, Desa Ngabeyan, Kartasura.
Lokasinya yang berupa bukit dan pemakaman, membuat kawasan Gunung Pare sepi. Selepas maghrib, orang pasti akan berpikir ulang untuk melintasi kawasan itu.
“Dulu lokalisasinya di Lapangan Ngabeyan, sebelah timur pabrik tembakau di Gembongan. Seingat saya, sekitar 1977 ada kontes sapi di Lapangan Ngabeyan. Acara dihadiri Presiden Soeharto. Karena itu, lokalisasinya pindah ke Gunung Pare dan menjadi ramai,” imbuh Sugeng.
Perlahan, di kawasan Gunung Pare mulai dibangun rumah-rumah semi permanen. Berdampingan dengan makam Tionghoa. Rumah tersebut dilengkapi kaca, yang memudahkan pengunjung melihat para wanita penghibur di dalamnya.
“Rumahnya banyak, mucikarinya ratusan. Wanita penghiburnya juga ratusan orang. Karena satu rumah minimal ada delapan wanita penghibur,” bebernya.
Meski sudah ditutup oleh pemkab pada 1984, bisnis esek-esek di Gunung Pare tetap bertahan. Tetap eksis hingga awal 2000-an. “Mungkin sekitar 2001 atau 2002, lahan di Gunung Pare mulai digusur. Dibuat terminal baru sampai sekarang,” ujarnya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram