Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

DLH Sukoharjo Akui Baru 3 TPS yang Optimal Lakukan Pengelolaan Sampah

Damianus Bram • Senin, 9 Mei 2022 | 02:15 WIB
CARI SOLUSI: Sampah di TPA Mojorejo, Bendosari menggunung. Perlu penanganan sampah di tingkat hulu seperti TPS. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
CARI SOLUSI: Sampah di TPA Mojorejo, Bendosari menggunung. Perlu penanganan sampah di tingkat hulu seperti TPS. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
SUKOHARJO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo mengakui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) belum optimal menangani sampah di Sukoharjo. Dari 11 TPS 3R, baru tiga yang aktif beroperasi melakukan pengelolaan sampah.

Kepala DLH Kabupaten Sukoharjo Agus Suprapto mengatakan, dari total 11 TPS 3R di seluruh kecamatan, baru sebanyak tiga TPS 3R yang dinilai sudah berfungsi secara optimal. Saat ini, DLH tengah memetakan kendala dan potensi masing-masing TPS 3R.

”Kami ada PR dari BPK, untuk mengaktifkan TPS 3R. PR-nya untuk mengaktifkan minimal 5 dari 11 TPS 3R,” kata Agus, Minggu (8/5).

Agus menambahkan TPS 3R yang aktif yakni Makamhaji, Kartasura; Gonilan, Kartasura; dan Duwet, Baki. Sedangkan TPS 3R lainnya yang berdiri sejak 2014 sampai 2021 belum aktif maksimal.

”Karena masih banyak yang belum aktif. Masing-masing TPS3R nanti kami petakan dulu, baik SDM maupun kondisi sarana dan prasarana yang ada saat ini,” jelasnya.

Tahun ini, kata Agus, DLH Sukoharjo mempercepat pemetaan masalah utama TPS 3R yang tidak beroperasi. Selain itu, DLH Sukoharjo tengah menyusun regulasi baru yang diwujudkan dalam bentuk perbup terkait pengelolaan sampah.

”Kami baru menyusun regulasi pengelolaan sampah dalam bentuk peraturan bupati. Kalau pakai perda pengelolaan sampah yang sudah ada masih terlalu umum,” katanya.

Sementara itu, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura telah berupaya mengatasi permasalahan sampah di tingkat rumah tangga. Kepala Desa Makamhaji Agus Purwanto mengaku sudah mengembangkan budidaya maggot di TPS beberapa tahun terakhir.

”Setahun ini kami kembangkan budidaya maggot. Menempati lahan kas desa, dekat dengan Makam Pracimaloyo,” kata Agus Purwanto.

Agus menyebut, pengelolaan sampah selama ini hanya linier. Yakni dari rumah tangga, dibuang ke TPS, lalu diangkut dibuang ke TPA. Dengan budi daya maggot, pengelolaan sampah menjadi berputar. Dari rumah tangga, langsung bisa dipilah dan dikelola. Sisanya, yang tidak bisa dimanfaatkan baru dibuang ke TPS.

”Setiap RT, mulai kami arahkan untuk budi daya maggot,” katanya.(kwl/adi) Editor : Damianus Bram
#TPS di Sukoharjo #dlh sukoharjo #TPS 3 R #pengelolaan sampah