Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Telusuri Kanal Baki, Sungai Buatan di Masa Kolonial Belanda

Damianus Bram • Minggu, 3 Juli 2022 | 20:09 WIB
MASIH BERFUNGSI: Kanal Baki yang membentang dari Gatak hingga Grogol, Sukoharjo dulunya diandalkan untuk pengairan kebun tebu, tembakau hingga nila di era penjajahan Belanda. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
MASIH BERFUNGSI: Kanal Baki yang membentang dari Gatak hingga Grogol, Sukoharjo dulunya diandalkan untuk pengairan kebun tebu, tembakau hingga nila di era penjajahan Belanda. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
SUKOHARJO - Pada masa lalu, Kecamatan Baki, Kecamatan Gatak, dan Kecamatan Grogol, Sukoharjo merupakan wilayah perkebunan tebu, tembakau, dan nila. Wilayahnya merupakan area persawahan subur. Sistem irigasinya pun masih bisa ditemui hingga saat ini.

Jejak sejarah tersebut bisa ditemui di Kali Baki. Penjajah mengubah sungai alami menjadi kanal untuk irigasi. Saat itu, Belanda dan Keraton Surakarta menjadikan wilayah ini sebagai wilayah pertanian dan perkebunan yang sangat diandalkan. Masuk ke dalam wilayah Residen Soerakarta dan di bawah Kawedanan Kartasura.

Sebelum era 1860 an di sekitar Baki sudah berdiri empat pabrik yaitu Pabrik Gula di Temulus, Pabrik Gula di Bentakan, Pabrik Nila di Gentan, dan Pabrik Nila di Ngruki. Kemudian pada sekitar 1890-an, mulai muncul pabrik-pabrik baru dan dengan komoditi yang berbeda pula yaitu Pabrik Temulus yang berubah menjadi pabrik pengolahan Tembakau, Pabrik Bakipandeyan, Pabrik Manang, dan Pabrik Gawok. Pendirian pabrik-pabrik di kawasan Baki ini mendorong pembangunan infrastruktur.

”Jejak dari proses-proses tersebut masih dapat ditemukan yakni salah satunya Kanal Baki,” kata Komunitas Pemerhati Sejarah Kecamatan Baki "Mbako Mbaki" Surya Hardjono, kemarin (1/7).

Di sepanjang saluran kanal Baki ini terdapat empat bendungan, dua aquaduct, 12 jembatan, dan satu pintu air. Bendungan-bendungan dan pintu air yang ada di Kanal Baki inilah yang kemudian dikendalikan oleh pabrik-pabrik di sekitar Baki untuk mengaliri sistem irigasi di perkebunan mereka.

Menelusuri Kanal Baki bisa dilakukan dengan sepeda motor. Dimulai dari Bendungan Senden di perbatasan Desa Blimbing dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak. Masih ada peninggalan prasasti di bendungan ini yang bertuliskan ”Stuwdam Senden Gawok Oct 1918”. Namun angka 8 sudah tidak begitu jelas terbaca.

Lalu, sejauh 1,5 kilometer ke arah timur, tepatnya di Donayan, Desa Menuran, Kecamatan Baki terdapat sebuah bendungan yang oleh masyarakat sekitar disebut “Pleret Bareng”.

”Yang menarik dari bendungan ini adalah bagian bawah bendungan. Terdapat sembilan mata air yang dahulu sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mandi. Pada mata air yang ke sembilan yang berada paling ujung timur, dahulu dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Maka dari itu dahulu sering diadakan acara menabuh Gamelan di sekitar mata air yang ke sembilan sebagai tradisi berdoa kepada Tuhan dan meminta kesembuhan atas segala penyakit. Akan tetapi, tradisi itu sekarang sudah hilang,” bebernya.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri perkampungan, kurang lebih 1 kilometer dari Bendungan Bareng ke arah timur, aliran Sungai sepertinya sudah menjadi aliran kanal buatan, lurus ke timur sampai ke Bengawan Solo.

Pada titik awal kanal yang di sebelah timur wilayah saat ini disebut dengan istilah “Ledok”. Tepatnya berada di kampung Pendeman. Menurut cerita, dahulu aliran sungainya berbelok ke selatan. Itulah sebabnya mengapa banyak ditemukan pasir di sekitar desa di sisi selatan sungai sekarang.

Tidak jauh dari pendeman, di sisi utara sungai terdapat sebuah pintu air yang mengarah ke utara, namun sekarang pintu air tersebut sudah tidak lagi berfungsi. Bergeser menelusuri lagi ke timur, tepatnya di bawah Jembatan Baki, terdapat sebuah bendungan yang memiliki dua pintu air di sisi selatan dan utara. Dalam bendungan ini terdapat sebuah terowongan yang menghubungkan pintu air di selatan dan utara.

Kedua pintu air tersebut sekarang masih berfungsi dengan baik mengalir ke Desa Menuran dan Desa Bentakan di selatan dan Desa Kudu di sisi utara, semua di Kecamatan Baki. Ada banyak lagi jejak sejarah di kawasan ini yang patut dijaga. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Kolonial Belanda #Peninggalan Kolonial #Kali Baki #Kanal Baki