Pabrik Baki Pandeyan berlokasi di sekitar Kantor Urusan Agama (KUA) Baki, Mapolsek Baki, dan Kantor Kelurahan Baki Pandeyan. Bekas pabriknya meninggalkan nama kampung yang disebut dengan “Ngloji”. Selain itu ada sebuah peninggalan fisik berupa bekas tandon atau wadah air yang menjadi satu dengan sumur dan terletak di sebelah barat Mapolsek Baki. Lokasinya mudah ditemukan karena berada di pinggir jalan utama Pakis, Klaten-Tanjunganom, Grogol, Sukoharjo.
”Peninggalannya yang tersisa adalah tandon air, di bawahnya ada sumur dan sekarang masih digunakan,” kata Surya Hardjono dari Komunitas Pemerhati Sejarah Kecamatan Baki "Mbako Mbaki".
Menurut Surya, Pabrik Baki Pandeyan dalam beberapa data disebutkan adalah sebuah pabrik tembakau. Tetapi sebuah foto yang tersimpan di KITLV menunjukkan bahwa pabrik ini bukan hanya sebuah pabrik pengolahan tembakau saja. Melainkan juga mengolah indigo atau nila, yaitu pewarna pakaian warna biru alami.
”Dari studi literasi yang saya baca, pada Regerings Almanak Nederland Indies tahun 1880, disebut Pabrik Baki Pandeyan dengan administraturnya bernama Peruis en A. Begemann. Diduga Pabrik Baki Pandeyan berdiri di sebelum tahun 1880-an. Lalu, Koran De Nieuwe Vorstenlanden tertanggal 27 Mei 1892 memberitakan tentang aktivitas Pabrik Baki Pandeyan pada tahun 1890,” kata Surya.
Menurut Surya, KUA Baki, Mapolsek Baki, dan Kantor Kelurahan Baki Pandeyan, dulunya merupakan kawasan Pabrik Baki Pandeyan. Namun, kondisinya sudah berubah. Hanya menyisakan tandor air dan sumur tua di bawahnya.
”Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini digunakan oleh Jepang sebagai markas. Dahulu, para pemuda Baki setelah dilatih baris-berbaris oleh Jepang, kemudian dimasukkan kedalam kompleks pabrik dan diberi makan “Grontol” makanan yang terbuat dari jagung. Setelah era Jepang, Pabrik Baki Pandeyan pernah beberapa kali digunakan masyarakat Baki untuk pagelaran Ketoprak dan akhirnya setelah tahun 1950-an, kabar tentang pabrik Baki Pandeyan sudah tidak terdengar lagi,” ungkapnya.
Surya menyebut, sebelum 1860an, di sekitar Baki sudah berdiri empat pabrik yaitu Pabrik Gula di Temulus, Pabrik Gula di Bentakan, Pabrik Nila di Gentan, dan Pabrik Nila di Ngruki. Kemudian pada sekitar 1890an, mulai muncul pabrik-pabrik baru dan dengan komoditi yang berbeda pula. Yaitu Pabrik Temulus yang berubah menjadi pabrik pengolahan Tembakau, Pabrik Baki Pandeyan, Pabrik Manang, dan Pabrik Gawok.
”Namun, tidak banyak yang tersisa. Kini tinggal saluran-saluran irigasi. Ada yang masih berfungsi dengan baik, ada yang dibiarkan mangkrak tidak terurus,” tandasnya. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram