Kepala SMPN 1 Baki Jaka Supaya Bagya menjelaskan, tiga lagu yang dibawakan, yakni Maju Tak Gentar, Halo Halo Bandung, dan Sambalado. Dimainkan oleh ratusan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) drum band.
“Mayoret kami ada delapan siswa. Kami juga tampilkan tokoh punakawan,” terang Jaka usai perform marching band, kemarin.
Biasanya, punakawan sering tampil dalam pergelaran wayang kulit maupun wayang orang. Ada tokoh Semar, beserta ketiga anaknya, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong. Di tim drum band SMPN 1 Baki, punakawan sengaja ditampilkan untuk menyemarakkan suasana.
“Punakawan berasal dari kata pana yang artinya paham, dan kawan yang artinya teman. Maksudnya, para punakawan bukan hanya sebagai abdi atau pengikut biasa. Tetapi mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Juga seringkali bertindak sebagai penasihat atau pamomong,” imbuh Jaka.
Filosofi Semar, lanjut Jaka, sebagai pengasuh golongan ksatria. Semar penjelmaan dewa, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Menjadi simbol atasan dan bawahan.
Gareng disimbolkan sebagai pemuda yang selalu berhati-hati dalam bertindak. Kemudian Petruk selalu menjaga kebenaran dan kebaikan. Sedangkan Bagong sebagai bayangan Semar. Itulah sebabnya, postur dan wajahnya mirip Semar.
“Drum band SMPN 1 Baki ini kebanggaan sekolah dan masyarakar Baki. Berdiri sejak empat tahun lalu. Baru dua tahun berdiri, sempat off karena pandemi Covid-19,” jelas Jaka.
Diakui Jaka, ekskul drum band jadi magnet SMPN 1 Baki selama pendaftaran peserta didik baru (PPDB) lalu. Apalagi ekskul ini juga melibatkan ratusan siswa dalam sekali perform. (kwl/fer) Editor : Damianus Bram