Gerakan Zero Waste Family System Menuju Sukoharjo Bebas Sampah adalah upaya pemkab pengurangan sampah pada sumbernya. Selain itu, program ini juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup, khususnya dalam bidang pengelolaan sampah.
"Diharapkan, sampah selesai di tingkat keluarga," ungkap Kepala DLH Sukoharjo Agus Suprapto.
Menurut Agus, tujuan kegiatan ini yakni meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah. Termasuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, mendorong gerakan memilah sampah mulai dari sumber sampah, dan mewujudkan pengelolaan sampah secara Zero Waste Family System.
"Mulai dari pemilahan sampah di keluarga, sampah organik bisa diolah sebagai pupuk organik atau magot. Kalau yang masih ada nilai ekonomisnya dibawa ke bank sampah," jelasnya.
DLH Sukoharjo juga berharap peran serta masyarakat yang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. Hal ini sebagai bentuk sinergi antara masyarakat dengan pemerintah. Peran bank sampah di masing-masing lingkungan baik tingkat desa, kelurahan, hingga RT-RW akan lebih dimaksimalkan. Sebab peran bank sampah ini sangat besar dalam membantu penanganan sampah di tingkat bawah. Hal ini berdampak besar pada pengurangan sampah buangan di tingkat kabupaten.
"Tetap kami lakukan pengawasan. Di masing-masing tempat pembuangan sampah memberikan kontribusi pengurangan volume sampah. Target kami di tahun 2025 paling tidak 30 persen pengurangan sampah, dan 70 persen penanganan sampah yang sudah dihasilkan masyarakat. Sehingga total 100 persen tertangani," lanjutnya.
Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Sukoharjo Widodo saat membacakan sambutan Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan Undang-Undang nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perubahan paradigma pengelolaan sampah. Yakni dari kumpul angkut buang, menjadi pengurangan di sumber, dan daur ulang sumber daya.
"Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah dari sumbernya. Antara lain dengan melibatkan peran berbagai pemangku kepentingan. Baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat," ungkap Widodo yang membacakan sambutan Bupati Sukoharjo Etik Suryani.
Di Kabupaten Sukoharjo, sampah yang masuk ke TPA lebih dari 200 ton/hari. Jumlah yang tidak sedikit tentunya, mengingat luas TPA Mojorejo hanya 4.8 Ha.
Apabila ini dibiarkan secara terus menerus maka TPA Mojorejo akan segera penuh dan butuh lahan baru untuk TPA. Jelas itu tidak mudah. Untuk itu, perlu adanya upaya mengurangi sampah yang masuk ke TPA.
Dalam rangka mendorong peningkatan kepedulian dan perubahan perilaku masyarakat untuk mengelola sampah, Sukoharjo ikut dalam kegiatan World Clean Up Day (WCD) Indonesia. Dimana Indonesia menuju jadi negara yang bersih dan bebas sampaio. Diantaranya dengan melakukan aksi cleanup dan pilah sampah di lingkungan masing-masing.
Kabupaten Sukoharjo, turut berperan serta dalam gerakan tersebut dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat secara serentak.
Disamping kegiatan tersebut Kabupaten Sukoharjo mengembangkan pola pengelolaan sampah secara terpadu dan terintegrasi pada sumber sampah.
"Diawali di Desa Blimbing Kecamatan Gatak. Pola pengelolaan tersebut yaitu Zero Waste Family System Menuju Sukoharjo Bebas yang merupakan metode pengolahan sampah yang diawali dengan pemilahan, pengomposan, dan pengumpulan sampah yang masih bernilai ekonomi yang dilakukan di tingkat sumber, yaitu lingkungan keluarga atau rumah tangga," pungkasnya. (kwl/nik) Editor : Damianus Bram