Keempat pilar tersebut, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, Undang‑Undang Dasar (UUD) 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Di hadapan ratusan warga Sukoharjo, Kharis juga merefleksi peristiwa G-30 S/PKI. Sekaligus mengingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT.
Karena atas perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa dan berkat kesetiaan anak bangsa, Pancasila berhasil diselamatkan dan terlepas dari pengkhianatan. Meskipun harus ditebus dengan gugurnya putra-putra bangsa, dalam peristiwa berdarah pemberontakan G-30 S/PKI.
“Mereka berkhianat kepada pemerintah. Berkhianat kepada rakyat, serta berkhianat kepada bangsa dan NKRI. Karena ingin mengganti Pancasila dengan ideologi komunisme,” terangnya.
Kharis menambahkan, dulu ancaman datang dari kekuatan ideologi lain. Kini, tantangan di globalisasi tak kalah besarnya. Karena yang dihadapi bukan pertentangan fisik. Melainkan lebih pada penurunan perilaku dan sikap moral anak bangsa, dalam mengamalkan Pancasila di kehidupan sehari-hari.
“Semua ini disebabkan kurangnya pengetahuan, lemahnya kesadaran, pemahaman, dan pengamalan terhadap jati diri bangsa. Tidak heran di Tanah Air masih terjadi kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin. Semakin redupnya kepedulian terhadap sesama, gotong royong, saling menghargai dan semangat toleransi, berganti dengan sikap individualistis dan materialistis,” ungkapnya.
Penurunan pengamalan Pancasila tersebut, terlihat dari makin tingginya praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) di lembaga pemerintah maupun swasta. Bahkan yang sedang terjadi saat ini, terjadi di lembaga yudikatif yang semestinya menjadi pilar utama penegakan hukum di Indonesia.
Demikian juga di bidang politik. Demokrasi dijalankan secara tidak sehat demi mencapai tujuan. Masyarakat yang dulu dikenal sebagai pribadi yang ramah dan santun, kini sering dilanda konflik horisontal serta saling hujat antargolongan. Termausk pertentangan agama, hingga gangguan keamanan di berbagai daerah yang dapat mengancam disintegrasi bangsa.
“Kejadian-kejadian seperti ini sangat menyedihkan dan memalukan. Padahal bangsa dan negara kita mempunyai falsafah Pancasila, yang nilai-nilainya begitu luhur dan agung,” papar Kharis.
Di akhir sosialisasi, Kharis mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mengukuhkan integrasi spiritual dan meningkatkan kewaspadaan. Terhadap upaya sistematis kebangkitan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
“Tragedi bersejarah (G30S/PKI) merupakan peristiwa yang membawa duka sangat dalam. Tidak bisa dilupakan oleh bangsa. Kita tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Sehingga setiap warga negara harus peka dan meningkatkan kewaspadan. Itulah mengapa, setiap September sejak 1957 lalu, dijadikan momentum untuk mengingatkan kita semua, terutama generasi muda,” tandasnya. (*/fer) Editor : Damianus Bram