Tutik, 45, salah seorang warga sekitar lokasi ledakan menuturkan, anak perempuannya yang duduk di kelas III SMP mengalami syok dan trauma pasca mendengar kerasnya suara ledakan.
"Saat kejadian, saya bersama dua anak saya nomor dua dan yang bungsu sedang ke luar rumah membeli perlengkapan sekolah di daerah Tanjung Anom Solo Baru. Yang di rumah hanya anak saya yang nomor satu. Sedangkan suami saya juga belum pulang," ungkapnya.
Saat ledakan terjadi, Tutik yang sedang berbelanja keperluan sekolah anaknya di sebuah toko di daerah Tanjung Anom, juga mendengar gelegar bunyi ledakan. Jarak rumah Tutik atau lokasi ledakan dengan Tanjung Anom sekitar 2 kilometer jauhnya.
"Semula saya kira yang meledak itu trafo listrik PLN. Namun saat saya pulang, rupanya gang masuk ke perumahan saya sudah penuh orang. Seketika itu saya langsung bergegas mencari anak saya yang berada di rumah sendirian," paparnya.
Di tengah rasa cemas, Tutik akhirnya menemukan anak sulungnya itu bersembunyi di dalam kamar dengan badan gemetaran karena dilanda rasa ketakutan. Saat kejadian, rumah Tutik bergetar mirip kejadian gempa, namun tidak sampai mengalami kerusakan.
"Anak saya semalam mengalami ketakutan hingga kesulitan tidur. Tadi pagi saya minta agar tidak berangkat sekolah dulu, tapi tidak mau. Terus ini tadi gurunya memberi kabar, anak saya di sekolah menangis dan diminta untuk dijemput pulang," terang Tutik.
Oleh tim trauma healing Polres Sukoharjo, siswi kelas III SMP itu mendapat pendampingan pemulihan dari trauma psikologis maupun fisiknya di aula PAUD Kemala Bhayangkara 93 Grogol, Sukoharjo, bersama anak-anak lain yang tinggal di kompleks Perum Grogol Indah itu.
"Kami terjunkan konselor dari bidang sumber daya manusia untuk melakukan trauma healing bagi anak-anak sekitar lokasi kejadian. Ya kaget saja ada suara ledakan keras. Konseling kan tidak harus kalau sudah ada trauma berat," kata Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan. (kwl/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria