Etik berharap, Gebbraks dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tentang beragam informasi, perpustakaan, bahan bacaan murah, hasil UMKM, sekaligus budaya lokal Sukoharjo dan Nusantara.
“Buku adalah jendela dunia. Membaca buku merupakan cara membuka jendela tersebut agar kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dunia,” terang Etik usai membuka Gebbraks yang dimeriahkan kesenian karawitan dan tari anak tradisional, Senin malam (31/10/2022).
Hadir mendampingi bupati, Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa, jajaran forkompimda, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Ditambahkan Etik, buku merupakan sumber beragam informasi yang dapat membuka wawasan tentang ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya.
Selain itu, dengan membaca, dapat membantu mengubah masa depan, serta menambah kecerdasan akal dan pikiran.
"Saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan Gelar Buku dan Budaya Rakyat Sukoharjo area publik yang mudah diakses masyarakat,” ucapnya.
Bupati tak memungkiri, kegiatan membaca buku banyak diabaikan dengan alasan kesibukan, maupun karena adanya media yang lebih praktis untuk mendapatkan informasi. Antara lain televisi, radio, serta internet.
Etik berharap, Gebbraks dapat membangkitkan minat dan semangat membaca buku, khususnya bagi para generasi muda sebagai calon generasi penerus bangsa.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Sukoharjo Sumarno menuturkan, perpustakaan memiliki peran penting untuk meningkatkan kualitas literasi serta perekonomian masyarakat.
"Sebab itu, kegiatan ini mengambil tema Literasi untuk Peradaban, Kesejahteraan dan Keberagaman Budaya," ujarnya.
Dalam Gebbraks tersedia banyak buku dengan tema bervariasi, dan dokumentasi foto lawas. Bukan hanya itu, event semakin meriah dengan pagelaran wayang kulit, lomba lesung, ketoprak kolosal, musik dan lomba karaoke. Semakin komplet dengan digelarnya lomba mewarnai dan menggambar untuk anak-anak usia KB/TK, serta SD.
"Kegiatan ini sebagai salah satu cara agar minat baca masyatakat semakin tumbuh, atau paling tidak paham tentang eksistensi perpustakaan," pungkas Sumarno. (kwl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono