Kepala Dinkes Sukoharjo Tri Tuti Rahayu menjelaskan, temuan stunted tertinggi di Kecamatan Polokarto. Sedangkan terendah di Kecamatan Weru. Menurutnya, stunting adalah balita dengan pertumbuhan tidak sempurna. Diindikasi dengan kondisi pendek dan sangat pendek.
“Kami fokus ke anak yang memiliki faktor risiko penderita stunting. Melalui pemberian pil pintar dan pil cantik untuk anak-anak di masa produktif. Sebagai upaya pencegahan, sebelum mereka memasuki masa pernikahan dan kehamilan,” kata Tuti, Kamis (2/2/2023).
Tuti menambahkan, pil pintar dan pil cantik diklaim mampu menghindarkan anak-anak usia produktif dari anemia. Diketahui, anemia merupakan salah satu penyebab utama ibu melahirkan bayi dalam kondisi stunting. Termasukkematian ibu melahirkan.
“Faktor krusialnya adalah anemia. Kami sarankan anak yang sedang haid dibudayakan minum tablet pil cantik. Kemudian pil pintar untuk pekerja wanita,” imbuh Tuti.
Ditargetkan, Kota Makmur bisa merasakan manfaat pil cantik dan pil pintar ini, 5-10 tahun ke depan. “Artinya pernikahan dan kelahiran di masa-masa tersebut, Sukoharjo sudah bisa menekan angka stunting,” harapnya.
Sementara itu, pencegahan stunting juga melibatkan bhabinkamtibmas dam babinsa. “Jadi, TNI dan Polri mendukung program pencegahan stunting. Namun leading sektornya tetap dinas kesehatan,” kata Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan.
Nantinya, Polres Sukoharjo dan Kodim 0726/Sukoharjo akan bersinergi. Menerjunkan bhabinkamtibmas dan babinsa sosialisasi ke masyarakat di wilayah masing-masing. Mengingatkan ibu-ibu yang sedang hamil, apakah sudah periksa ke posyandu atau belum. “Harapannya upaya ini dapat memerangi masalah stunting,” beber kapolres.
Komandan Kodim (Dandim) 0726/Sukoharjo Letkol Czi Slamet Riyadi menyebut sumber stunting adalah anemia. “Maka harus dihajar saja anemianya. Melalui pembagian pil cantik kepada para remaja putri,” hematnya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram