Anak terkena stunting, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan perkembangan otaknya juga. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah. Termasuk produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif.
Namun, bagaimana jika anak terlanjur stunting? Salah satu cara pengasuhan, yakni orang tua harus kreatif menyajikan menu makanan untuk anak.
Kepala UPTD Puskesmas Sukoharjo Kota Kunari Mahanani mengungkapkan, pihaknya bersama instansi terkait saat ini getol turun langsung ke lapangan mengatasi stunting, khususnya wilayah Sukoharjo kota.
Kunjungan ke posyandu, rutin dilakukan secara langsung untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Pendampingan terhadap keluarga yang mempunyai anak stunting, memang harus dilakukan secara mendalam.
"Kami juga memberikan edukasi tentang parenting. Harapan kami supaya orang tua mengetahui caranya memberikan stimulasi dan senantiasa mendampingi anak,” ujar Kunari.
Di Sukoharjo sendiri, ada sekitar 500 anak yang mengalami stunting. Banyak faktor yang menyebabkan stunting pada anak bisa terjadi. Beberapa di antaranya adalah sanitasi yang buruk, infeksi yang berulang, hingga akses terhadap kesehatan dan makanan bergizi yang terbatas. Selain itu juga karena minimnya edukasi orang tua, khususnya ibu untuk mengenai stunting.
"Pencegahan dan penanganan stunting ini sangat dipengaruhi oleh peran orang tua, terutama pola asuh (parenting)," bebernya.
Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua jika anaknya mengalami stunting? pertama yang bisa dilakukan untuk anak dengan tinggi badan di bawah normal yang didiagnosis stunting, yaitu dengan memberikannya inisiasi menyusui dini (IMD). Termasuk pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, serta pemberian ASI bersama dengan makanan pendamping ASI (MPASI) sampai anak berusia 2 tahun.
"ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa anak ke posyandu setiap bulan," terangnya.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak terkait kekebalan dari penyakit berbahaya, yakni melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di posyandu atau puskesmas terdekat.
"Kemudian, orang tua juga harus kreatif menyediakan sajian makanan. Selain gizi yang seimbang, tampilan sajian makanan yang menarik akan menambah nafsu makan anak," terangnya.
Kunari mencontohkan, makanan bisa disajikan dengan warna-warni yang menarik, tapi bukan dengan menggunakan warna kimia yang berbahaya. Dengan warna menarik, harapannya anak akan tertarik untuk mengonsumsi makanan yang disajikan.
"Lakukan juga, jika memungkinkan, suapi anak di keramaian di antara anak-anak seusianya. Sambil main gak apa-apa. Zaman dulu sering dilakukan orang tua kita. Ndulang saat kita main, supaya tetap bisa makan. Makan bersama teman, biasanya menambah nafsu makan," ujarnya. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram