Petani durian milenial asal Desa Sanggang, Janu Hari Setiawan, 34, mengungkapkan, 2.000 pohon durian ini merupakan program CSR sebuah BUMN beberapa tahun lalu. Selain itu, ada pula masyarakat yang menanam secara pribadi di ladang maupun pekarangan.
”Sekarang mulai belajar panen, ada yang sudah sekali panen dan ada juga yang sudah dua kali panen,” kata Janu ditemui di Desa Sanggang, Minggu (26/2/2023).
Menurut Janu, berbagai varietas durian ditanam di Desa Sanggang, mulai dari durian lokal, montong, dan musang king. Dari belajar panen ini, hasilnya cukup menggembirakan.
”Per pohon ada yang baru berbuah dua sampai tiga buah. Harganya lumayan, yang montong per kilogram Rp 70.000 sampai Rp 75.000 ribu, sedangkan musang king per kilogram mencapai Rp 200.000. Untuk yang montong, rekor kemarin 8 kilogram, harganya perbiji Rp 500 ribuan, kalau yang musang king, 1 sampai 2 kilogram, kecil sih, tapi ga kalah rasanya,” kata Janu.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno mengaku optimistis durian Sanggang mampu bersaing dengan durian dari daerah lain. Durian Sanggang mempunyai karakter yang lebih nikmat jika dibanding dengan daerah lain.
”Ketika kami melakukan uji rasa terhadap produk durian Sanggang, ternyata rasanya tidak kalah dengan daerah lain. Rasanya istimewa, ada karakter lebih nikmat. Dan saya berani menjamin durian Sanggang mampu bersaing dengan durian daerah lain,” kata Bagas.
Menurut Bagas, durian Sanggang dirawat dengan sangat baik oleh para petani, dipupuk dengan pupuk organik. Sehingga ada rasa manis ada sepetnya juga, hal ini merupakan kombinasi yang luar biasa untuk rasa durian. ”Bijinya kecil, daging buahnya tebal dan legit. Kulitnya tipis. Saya yakin ini bisa bersaing dengan daerah lain dan pasarnya bisa lebih luas,” katanya.
Pihaknya tengah melakukan inventarisasi terhadap tanaman durian di Desa Sanggang. Harapannya, musim panen durian tahun depan bisa menggelar pameran atau expo durian. ”Ternyata di Sukoharjo durian bisa berbuah dan rasanya tidak kalah. Nah, ini kita inventarisasi, kapasitas produksinya berapa. Jika sudah ada datanya, maka bisa membuat prediksi produksinya,” tandasnya. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram