Pantauan radarsolo.com, layanan penukaran uang baru dibuka pukul 09.00, namun tak sedikit warga yang telah mengantre sejak pukul 05.00. Itu mengingat kuota yang disediakan terbatas.
Setelah mobil penukaran uang dari Bank Muamalat dibuka, warga langsung merangsek. Sayangnya, mereka enggan mengantre hingga mengakibatkan ricuh.
Karena kewalahan melayani warga yang memaksa meminta nomor antrean, satpam menyebar potongan kertas nomor antrean. Sontak, warga pun berebut.
Dwi Handayani, 42, warga Kecamatan Tawangsari mengaku mendapatkan nomor antrean 3. "Saya nyampai disini sejak pukul 05.00. Sudah banyak yang antre. Tadi waktu mau minta nomor antrean, malah nomor antreanya disebar oleh satpam. Ikut rebutan dapat nomor 3. Di pengumumannya tidak dijelaskan kuotanya berapa. Tidak ada syarat yang tertulis juga," beber terang pedagang makanan tersebut.
Di lokasi yang sama, mobil layanan penukaran uang dari Bank Indonesia juga digeruduk warga. Tapi kemudian bubar karena penukaran uang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah mendaftar via online.
Akhirnya, mereka kembali mengantre di mobil milik Bank Muamalat. Kali ini, barisan antrean dapat tertata dan masyarakat terlayani. "Dari awal memang tidak ada antrean dan di pengumumannya tidak dijelaskan kuotanya berapa. Tidak ada syarat yang tertulis juga," tambah Dwi.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Sukoharjo Dian Kurniati, mengatakan, kegiatan tersebut menggandeng tiga bank. Dipusatkan di pendapa GSP dan Mal Pelayanan Publik (MPP) Sevaka Bhakti Wijaya.
“Yang digelar di GSP untuk BI dan Bank Muamalat, sedangkan di Gedung MPP adalah BNI. Ini merupakan program dari BI. Kami hanya menginfokan atau mengoordinasikan saja,” jelas Dian. (kwl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono