Sejak awal tahun ini, Desa Majasto terus bersolek untuk mempercantik desa setempat.
"Tahun ini kami tambah dengan tugu di taman desa," kata Kepala Desa Majasto Rudi Hartono kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (28/4/2023).
Penganggaran keempat dari dana desa sudah dialokasikan untuk pembangunan taman desa. Pembangunan tugu direncanakan akan menghabiskan dana sekira Rp 35 juta.
"Kami anggarannya yang murah-murah saja, yang penting bermakna," paparnya.
Menurut Rudi, tugu tersebut berbentuk sebuah tangan menghadap ke atas. Di atas telapak tangan terdapat buah. Tugu tersebut diberi nama Tugu Maja Asta, atau Buah Maja di Atas Tangan.
"Maja itu buah, yakni buah Maja. Sedangkan Asta itu tangan. Sesuai dengan nama cikal bakal nama desa yakni diambil dari kata Maja Asta (yang akhirnya jadi Majasto)," beber Rudi.
Menurut Rudi, nama Desa Majasto diberikan oleh Ki Ageng Sutowijoyo. Dia salah seorang anak dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Saat datang ke desa setempat, dia membawa dan menanam buah Maja.
"Maka, kemudian desa ini dinamakan Desa Maja Asta. Lambat laun dikenal dengan nama Majasto," tuturnya.
Saat ini, pembangunan tugu masih dalam proses penyelesaian. Namun, setelah ada pembangunan tugu ini, banyak masukan dari para sesepuh desa.
"Para sesepuh, tokoh masyarakat yang diperantauan memberikan masukan, karena mereka sangat mendukung pembangunan tugu. Masukannya kami diminta menanam tanaman buah Maja, di sepanjang jalan desa," ungkapnya.
Saat ini, lanjut Rudi, pihaknya tengah mencari bibit-bibit buah Maja untuk ditanam di sepanjang jalan mulai pintu masuk Desa Majasto sampai ke Makam Bumi Arum.
"Sekaligus untuk membranding Desa Majasto, yang berasal dari kata buah Maja dan Asta," pungkasnya. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram