Sumardi mengaku sudah merintis usaha tersebut sekira tujuh tahun lalu. Pria paro baya yang akrab disapa Mardi ini menjadi penyedia bahan baku kulit kambing, bagi para perajin kaligrafi di Sonorejo dan sekitarnya.
“Saya hanya menyediakan kulit kambing saja. Nantinya saya setor ke perajin kaligrafi di Sonorejo, sudah berbentuk bingkai kayu. Saat ini saja saya masih kewalahan, meski banyak yang memotong kambing untuk kurban,” kata Sumardi, kemarin (3/7/2023).
Menurut Sumardi, bahan baku kulit kambing didapat dari para pengepul di Kota Semarang. Tercatat ada empat hingga lima pengepul, yang sering menyuplai kulit kambing basah. “Prosesnya dari jagal kambing diambil pengepul. Lalu dari pengepul disetorkan ke saya,” imbuhnya.
Di tangan Mardi, kulit-kulit kambing yang masih basah kemudian diproses sampai kering. Setelah itu ditambah bingkai kayu dengan cara dipaku. Baru kemudian disetorkan kepada para perajin kaligrafi. “Harga dari saya Rp 70 ribu-Rp 80 ribu per lembar,” bebernya.
Diakui Mardi, permintaan bahan baku dari perajin kaligrafi membeludak. Dalam sebulan, dia harus menyediakan 500-800 lembar kulit kambing kering.
“Biasanya menjelang Idul Fitri makin banyak permintaan. Sebulan sebelum puasa saya harus bisa stok banyak,” ujarnya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram