Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Industri Batik di Sukoharjo, Tak Lekang Tergerus Zaman

Damianus Bram • Rabu, 5 Juli 2023 | 17:18 WIB
TETAP BERTAHAN: Perajin batik di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, kini mulai merangkak bangkit setelah diterpa pandemi, kemarin (4/7/2023). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
TETAP BERTAHAN: Perajin batik di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, kini mulai merangkak bangkit setelah diterpa pandemi, kemarin (4/7/2023). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
RADARSUKOHARJO.COM – Industri batik kembali bergeliat usai pandemi Covid-19. Meski belum stabil seperti sebelum pandemi, namun sudah ada kenaikan penjualan.

Salah seoerang perajin batik di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, Danang mengatakan, setelah pandemi Covid-19, pasar sudah membaik namun belum pulih seperti sebelum pandemi. Selama pandemi Covid-19, dia berupaya bisa bertahan.

"Waktu pandemi kemarin, kami bertahan  tidak mengurangi karyawan. Kami hanya merotasi jam kerja. Harapannya ke depan kembali pulih," kata Danang saat ditemui di tempat usahanya di Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Selasa (4/7/2023).

Menurut Danang, penjualan batik saat pandemi sempat turun drastis hingga 80 persen. Kini sudah kembali pulih sekira 50 persen.

"Era pandemi, sampai drop 80 persen. Benar-benar stok banyak. Tidak ada yang keluar (terjual)," kata Danang.

Menurut Danang, usaha batik yang digelutinya berbasis batik tulis dengan warna-warna alami. Karakter batik tulis dengan warna alami cenderung ekslusif, tidak ada kembarannya. Hal ini membuat pemasaran batik miliknya tidak bisa melalui online.

"Kami jual online kurang cocok, karena basiknya tulis, tidak ada kembarannya.
Setiap kali di-upload, respons pasar paling cepat dua pekan. Misal yang kami upload sudah laku, pembeli lain dikasih motif lain tidak mau. Dibuatkan juga tidak mau  karena waktu tunggunya lama. Beda dengan printing, kembarannya banyak, satu motif bisa ratusan bahkan ribuan," katanya.

Untuk pasar, Danang masih memasarkan batiknya ke seluruh Indonesia dan mancanegara. Bermodal jaringan yang sudah empat generasi dan turun temurun, batik milik Danang sudah punya pelanggan tersendiri.

"Kami sudah empat generasi turun temurun. Pelanggan sudah banyak seperti Jakarta, Semarang, Jogja, Ambon, Manado, Makasar sampai Aceh," bebernya.

Diakui Danang, batik tulisnya menggunakan warna-warna alami seperti secang, gambir dan mangrove. Ciri khas batik yang dibuat Danang sampai saat ini belum diduplikasi UMKM lain yakni dari bahan pewarna alami berupa gambir.

"Caranya ya rahasia, kalau bahan lain kan sudah banyak yang menggunakan," ujar dia. (kwl/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Batik Tulis #Batik di Sukoharjo #Batik Tulis Bahan Alami #industri batik