Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Jambu Pranan Melimpah, Potensi Wisata Belum Tergarap

Iwan Kawul • Senin, 31 Juli 2023 | 17:54 WIB
LAYAK DIKEMBANGKAN: Warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto memanen jambu air lokal.
LAYAK DIKEMBANGKAN: Warga Desa Pranan, Kecamatan Polokarto memanen jambu air lokal.

RADARSUKOHARJO.COM – Jambu air khas Desa Pranan, Kecamatan Polokarto mulai panen. Setidaknya ada 3.500 pohon yang ditanam warga Pranan di wilayahnya masing-masing.

Kepala Desa Pranan, Sarjanto mengungkapkan, musim panen kali ini menghasilkan cukup banyak buah jambu yang dipanen bertahap. Panen pada musim kedua telah dilakukan sejak pertengahan Juli hingga awal September 2023 mendatang.

Hampir 80 persen warganya menggantungkan hidup menjadi bakul buah. Mereka juga membudidayakan tanaman buah. Kali pertama warga menanam buah kedondong, kemudian karena banyak warga yang merasa buah mangga lebih menguntungkan, maka kedondong tak lagi dilanjutkan dan beralih pada penaman mangga.

”Sekira 10-15 tahun terakhir mereka melihat potensi jambu air. Ternyata jambu air tersebut tak hanya panen satu kali, selain itu harga di eks Karesidenan Surakarta cukup menjanjikan. Maka warga mengganti pohon mangga dengan jambu,” ujar Sarjanto, Minggu (30/7/2023).

Rata-rata para warga yang menjadi bakul buah ada yang menjualnya melalui eceran ada pula yang memilih menjadi tengkulak. Selain di eks Karesidenan Surakarta, jambu-jambu asal Desa Pranan itu juga dijual ke Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota/kabupaten lain di sekitar Sukoharjo.

Tetapi kebanyakan lebih memilih fokus pada penjualan pinggir jalan, lantaran dianggap lebih menguntungkan. Di samping itu, jambu dengan kulit tipis tersebut tidak tahan lama jika harus dikirim ke luar kota. Menurutnya, selain memakan waktu risiko pengiriman juga tinggi, salah satunya buah kemungkinan busuk saat tiba di lokasi penerima.

Meski terbilang berhasil dalam budidaya, dia menyebut belum ada wilayah lain yang melakukan studi banding di Desa Pranan. Namun masyarakat di sekitar Pranan sudah mulai tertarik dan menanam meski penjualannya tetap dilakukan warga Pranan.

”Tahun ini kami juga merencanakan pada awal September mengadakan festival jambu. Akan ada tiga segmen, pawai bronjong merdeka, lomba sepeda dengan beban sebelah dan festival jambunya sendiri. Setiap kegiatan punya kekhasan masing-masing dan telah hidup di Pranan,” paparnya.

Sarjanto menambahkan, pihaknya juga beberapa kali kerap menerima wisatawan, sayangnya konsep wisata di desanya itu belum digarap matang. Warga lebih memilih fokus pada penjualan. Sementara kebanyakan wisatawan yang datang biasanya tidak terstruktur. Mereka kadang-kadang mendatangi pekarangan warga dan memetik sendiri di rumah-rumah warga dengan harga jambu per kilogramnya Rp10.000.

Dari potensi tersebut, Sarjanto mengungkapkan tak hanya penjualan jambu yang menjadi sumber pundi-pundi warga. Namun multi player efek juga terjadi lantaran ada pula warga yang memilih menjual perlengkapan memanen. Di antaranya seperti bronjong dengan kekuatan khusus untuk menampung bobot buah, hingga tongkat pemetik buah yang telah dimodifikasi dengan kain agar kulit jambu tak rusak dan mudah busuk. (kwl/adi)

Editor : Damianus Bram
#Jambu Pranan #Jambu Air #potensi wisata #Desa Pranan #sukoharjo