RADARSUKOHARJO.COM – Pemerintah Desa Jangglengan, Kecamatan Nguter meluncurkan Desa Wisata (Deswita) Jangglengan Kampung Bengawan. Acara dimulai dengan ritual membacakan geguritan di Pesanggrahan Paku Buwono IX di desa setempat, Sabtu (23/9) pagi.
”Dimulai dengan ritual di Petilasan PB IX, sekarang sudah kami bangun, dengan konsep bata ekpos, nuansa pedesaan,” kata Kepala Desa Jangglengan Sutoyo, Minggu (24/9).
Kemudian dilanjutkan dengan kirab gunungan dan delapan nasi tumpeng. Kirab gunungan dan tumpeng diarak dari dua tempat yang berbeda. Yang pertama diarak bersama ratusan warga dari Petilasan Paku Buwono IX dan yang kedua diarak dari Balai Desa Jangglengan lama. Sejumlah tumpeng juga diarak menggunakan mobil Jeep off road.
”Launching Desa Wisata Jangglengan Kampung Bengawan dimulai dengan kirab budaya diikuti oleh ribuan warga Desa Jangglengan. Ada satu gunungan hasil bumi dan delapan nasi tumpeng dari delapan dukuh di Desa Jangglengan,” kata Sutoyo.
Kemudian, nasi tumpeng diserahkan kepada Bupati Sukoharjo Etik Suryani dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama masyarakat Desa Jangglengan. Makanan yang disajikan yakni makanan khas desa seperti urap, lodeh, tahu tempe bacem, telur bacem dan tak lupa ikan layur. Acara dilanjutkan dengan lomba dayung perahu atau kano.
”Lomba kano diikuti oleh lebih dari 90 peserta berasal dari daerah sekitar Sukoharjo. Ada tiga kategori lomba yakni perseorangan putra, beregu putra dan beregu putri dengan total hadiah Rp 15 juta dan piala Bupati Sukoharjo,” kata Sutoyo.
Sutoyo menambahkan, lomba kano atau perahu dayung ini sebagai upaya mengingatkan kembali warga masyarakat bahwa pada zaman dahulu perahu digunakan untuk alat transportasi. Perahu digunakan untuk kegiatan perekonomian warga masyarakat di lembah sungai Bengawan Solo.
”Dulu, kalau mau ke Solo ya pakai perahu. Alat transportasinya pakai perahu. Bengawan Solo merupakan urat nadi perekonomian pada zaman dulu,” kata Sutoyo.
Bupati Sukoharjo mengatakan, dibentuknya desa wisata tentu sangatlah penting terutama di bidang pariwisata, karena dapat memudahkan pemerintah desa dalam mengembangkan desa. Sehingga diharapkan pengelola desa wisata mampu memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki. ”Pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa dan tentunya bisa menambah PAD Kabupaten Sukoharjo,” tandas Etik. (kwl/adi)
Editor : Damianus Bram