RADARSUKOHARJO.COM- Penuntasan stunting tidak cukup mengandalkan pemerintah. Butuh bantuan seluruh elemen masyarakat.
Arys Buntoro tergerak menjawab tantangan tersebut. Menginisiasi berdirinya yayasan nirlaba Bumi Tunas Hijau (Butuh).
Yayasan ini menelurkan sejumlah inovasi maupun program penanganan dan pencegahan stunting secara berkelanjutan.
“Selama ini program dari pemerintah sudah banyak (dalam penanganan stunting). Seperti bagi-bagi atau pemberian asupan makanan tambahan. Melihat hal ini, Bumi Tunas Hijau ingin berkontribusi lewat program yang lebih berkelanjutan,” beber Arys, Senin (11/12/2023).
Titik fokus program penanganan dan pencegahan stunting secara berkelanjutan yang dilakukan Arys didukung penuh PT PLN (Persero) lewat corporate social responsibility (CSR).
“Kami mendapatkan anggaran CSR dari PLN untuk implementasi program penanganan dan pencegahan stunting di Kecamatan Polokarto. Seluruh program tersebut sudah berjalan,” imbuh Arys.
Bukan tanpa alasan Butuh memilih beraksi di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Karena kecamatan di sisi timur Kabupaten Sukoharjo ini ini merupakan salah satu wilayah lumbung pangan.
Namun angka stunting di Polokarto cukup tinggi. Bahkan salah satu yang tertinggi di Jawa Tengah.
“Ini ironi sekali. Polokarto adalah lumbung pangan, sawah luas, ternak ada, perikanan ada, tapi angka stunting-nya tinggi,” terang pria berkumis tipis itu.
“Maka kami aktif terlibat bersama Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Pemerintah Kecamatan Polokarto, puskesmas dan pemerintah desa. Bersama-sama turunkan angka stunting,” imbuh Arys.
Program yang dijalankan Butuh cukup beragam. Salah satunya warung serbaada (Waserda) di enam desa di Kecamatan Polokarto.
Sasarannya Desa Mranggen, Kemasan, Bakalan, Polokarto, Bulu, dan Jatisobo.
Di dalam Waserda ini menjual 100 jenis barang kebutuhan masyarakat. Termasuk produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di masing-masing desa. Seperti hasil pertanian dan peternakan warga.
Bentuk bantuan yang diberikan untuk Waserda adalah bangunan warung, lengkap dengan dagangan dan perabot di dalamnya. Termasuk gaji untuk pengelola Waserda selama setahun.
Program berikutnya adalah pembuatan kandang ayam komunal. Bantuan dari anggaran CSR, digunakan untuk pembuatan kandang ayam komunal.
Lengkap dengan 600 bibit ayam petelur. Kandang ini dibangun di enam desa di Kecamatan Polokarto.
Penerima manfaat dari program ini adalah penderita stunting di enam desa tersebut. Salah satunya dibangun di Dusun Panguripan, Desa Polokarto.
Kandang di sana sudah beroperasi. Bahkan ayam-ayamnya sudah bertelur dan dibagikan ke penderita stunting.
Selain itu, di enam desa tersebut juga dibuatkan kebun gizi. Kebun tersebut ditanami aneka sayuran untuk pemenuhan gizi keluarga, yang di dalamnya terdapat kasus stunting.
“Kami juga memiliki program-program pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi masyarakat. Supaya memiliki kompetensi terkait penanganan dan pencegahan stunting. Bahkan kami juga sudah membentuk relawan gizi,” Arys.
Seluruh program tersebut dijalankan sejak Agustus lalu, dan akan berakhir pada Agustus 2024.
Sudah berjalan dan akan berkelanjutan, dengan melibatkan peran serta pemerintah kecamatan, pemerintah desa, PKK, relawan gizi, dan seluruh lapisan masyarakat.
Atas dedikasi Arys lewat Butuh terhadap penanganan dan pencegahan stunting di Kecamatan Polokarto, Jawa Pos Radar Solo memberikan penghargaan Top Of The Year 2023.
Kategori Pendamping Terbaik Implementasi Program CSR Pencegahan dan Penanganan Stunting.
Penghargaan diserahkan Direktur Jawa Pos Radar Solo Resita Rika Aryani, yang diterima langsung oleh Arys. (kwl/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono