Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Machmud Lutfi Huzain, Warga Sukoharjo yang Mendunia karena Bikin Asupan Makanan untuk Astronot

Iwan Kawul • Selasa, 26 Desember 2023 | 05:29 WIB
Machmud Lutfi Huzain menerima penghargaan Top Of The Year 2023 dari Jawa Pos Radar Solo.
Machmud Lutfi Huzain menerima penghargaan Top Of The Year 2023 dari Jawa Pos Radar Solo.

RADARSOLO.COM-Belum banyak yang tahu, mikroalga atau plankton memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Di tangan Machmud Lutfi Huzain, 33, mikroalga ini dibudi daya untuk bahan pangan di masa depan. Bahkan di luar negeri, alga spirulina menjadi asupan makanan para astronot.

Kisah sukses Machmud Lutfi Huzain berawal saat dia dan timnya melakukan riset sekira 2012 lalu.

Riset tersebut mendalami tentang mikroalga sebagai bahan baku spirulina yang biasanya hidup di air laut. Namun bagaimana caranya bisa dibudi daya di kolam air tawar.

Terobosan ini dilakukan untuk menghindarkan mikroalga spirulina dari pencemaran. Salah satunya logam berat.

Serangkaian penelitian dilakukan selama setahun agar spirulina mampu hidup di air tawar.

“Akhirnya berhasil. Namun dari keseluruhan anggota tim peneliti saat itu, saya yang tertarik untuk mengembangkan mikroalga spesies spirulina ini,” kata alumni Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Machmud Lutfi Huzain terdorong menjalani bisnis budi daya mikroalga spirulina, karena manfaatnya besar bagi kehidupan manusia di masa depan.

Ide yang luar biasa ini mengantarkannya menjadi juara pertama Diplomat Success Challenge 2013. Machmud Lutfi Huzain mendapatkan modal Rp 500 juta, kemudian membuka bisnis budi daya mikroalga yang diberi nama Neo Algae Spirulina.

Hasil pengecekan lab gizi, dalam 1 gram spirulina kering sama dengan 1 kilogram (kg) buah dan sayur.

“Di luar negeri sana sudah dikembangkan sebagai makanan masa depan. Digunakan sebagai makanan untuk astronot di luar angkasa," imbuh pria kelahiran Sukoharjo, 6 Agustus 1990 ini.

Machmud Lutfi Huzain jeli melihat peluang tersebut, karena melihat budi daya mikroalga di Indonesia masih sangat minim.

Bersama Stafsus Presiden Diaz Hendropriyono (dua dari kiri) dan Dandim 0726/Sukoharjo Letkol Czi. Slamet Riyadi (dua dari kanan).
Bersama Stafsus Presiden Diaz Hendropriyono (dua dari kiri) dan Dandim 0726/Sukoharjo Letkol Czi. Slamet Riyadi (dua dari kanan).

Padahal Indonesia memiliki iklim cuaca tropis yang sangat mendukung. Menariknya lagi, budi daya mikroalga juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.

“Mikroalga kualitasnya lebih bagus di negara tropis. Matahari bersinar dari pagi sampai sore hari, hampir sepanjang tahun,” ungkap Machmud Lutfi Huzain. 

Bahkan mikroalga, lanjut Machmud, bisa mencegah global warning. Karena budi daya mikroalga di lahan seluas 1 hektare, mampu menyerap 6 ton karbondioksida (CO2) per tahun.

“Daya serapnya jauh lebih besar. Dibandingkan hutan lebat yang per hektarnya hanya menyerap 2 ton CO2 per tahun,” jelas Machmud Lutfi Huzain. 

Selain dikembangkan sebagai bahan pangan di masa depan, spirulina kering juga bermanfaat sebagai obat untuk penyakit sembelit atau wasir, mag, tekanan darah tinggi, gangguan hati, anemia, kegemukan, hingga kanker.

Bersama Wamen Kemendag RI Dr. Jerry Sambuaga (kanan).
Bersama Wamen Kemendag RI Dr. Jerry Sambuaga (kanan).

“Jadi spirulina ini bentuknya serbuk untuk diminum. Banyak mengandung nutrisi. Bukan cuma diminum, juga bisa dijadikan campuran adonan kue. Bisa untuk pewarna makanan,” papar Machmud Lutfi Huzain. 

Ya, spirulina juga mengandung tiga jenis pigmen (zat pewarna) yang berguna mencegah kanker. Mulai dari xanthophylisn klorofil, phicocyanin, dan selanium. Juga mengandung antioksidan seperti vitamin C dan E.

Waktu panen sangat cepat. Setiap empat hari sekali. Selain itu, tidak ada yang terbuang dari spirulina. Bahkan air sebagai media budi daya juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.

Namanya bisnis, tak akan pernah lepas dari tantangan. Pekerjaan rumah yang paling berat, yakni mengenalkan spirulina sebagai bahan makanan di masa depan. Mengingat belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

Kolam air tawar untuk budi daya mikroalga spirulina di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Kolam air tawar untuk budi daya mikroalga spirulina di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Saat ini Machmud mengoperasikan tiga pabrik pengolahan spirulina. Dua pabrik masing-masing di Sukoharjo dan Klaten, Jawa Tengah. Serta satu pabrik di Gresik, Jawa Timur.

Proses budi daya dan penyediaan pupuk organik ada di Sukoharjo dan Klaten. Sedangkan pabrik di Gresik digunakan untuk pengemasan produk dan laboratorium.
Machmud mengontrol seluruh proses budi daya, pengemasan, dan pemasaran produk untuk menjamin kualitasnya.

“Pupuk cair ini bermanfaat bagi tanaman. Karena saat ini hampir seluruh tanah, khususnya di Sukoharjo sudah bersifat asam. Karena terlalu sering menggunakan pupuk kimia,” ungkap Machmud Lutfi Huzain. 

Menurut Machmud Lutfi Huzain, tanah yang sudah terlanjur asam perlu dinetralkan dengan pupuk cair spirulina yang bersifat basa.

Dari berbagai percobaan dan testimoni, tanaman lebih subur setelah menggunakan pupuk cair spirulina.

“Logikanya begini. Tanaman butuh tanah yang netral. Padahal kondisi tanah sudah asam. Supaya netral perlu dijadikan basa dengan pupuk cair spirulina,” kata Machmud Lutfi Huzain.

Salah satu produk spirulina dalam bentuk pupuk organik cair
Salah satu produk spirulina dalam bentuk pupuk organik cair

Dari ide dan kerja kerasnya tersebut, Machmud Lutfi Huzain mendapatkan apresiasi Top Of The Year 2023 kategori Inovator Muda Berdaya Saing Global, dari Jawa Pos Radar Solo. (kwl/fer)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Machmud Lutfi Huzain #Neo Algae Spirulina #alga #gizi #Mikroalga #top of the year 2023 #astronot #spirulina