Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Puluhan Anak di Sukoharjo Alami Kasus Kekerasan: Penelantaran, Bullying hingga Pelecehan

Iwan Kawul • Kamis, 22 Februari 2024 | 04:15 WIB
Ilustrasi aktivis sosial Agus Widanarko mengenakan kostum superhero, mendongeng di sebuah SD di Sukoharjo.
Ilustrasi aktivis sosial Agus Widanarko mengenakan kostum superhero, mendongeng di sebuah SD di Sukoharjo.

RADARSOLO.COM - Puluhan anak di Sukoharjo mengalami kekerasan selama tahun 2023.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Sukoharjo Sumini mengakui, masih banyak temuan kasus kekerasan terhadap anak di Kota Makmur.

Untuk tahun 2023 saja, tercatat ada temuan 39 anak mengalami kekerasan.

"Jumlahnya per tahun naik turun. Mulai 2019 sebanyak 26 anak, 2022 sebanyak 32 anak, 2021 sebanyak 38 anak. Lalu pada 2022 sebanyak 39 anak dan 2023 sebanyak 39 anak," kata Sumini, Rabu (21/2).

Menurut Sumini, kasus kekerasan anak tersebar hampir merata terjadi di seluruh kecamatan.

Kecuali di Kecamatan Bendosari, Bulu dan Weru relatif jarang ada temuan.

Sebagian besar anak-anak mengalami kasus yang masuk kategori penelantaran anak, bullying, pelecehan seksual dan kekerasan fisik.

Terpisah, Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan, anak adalah pewaris negeri.

"Merekalah yang akan mengisi warna-warni negeri ini, menentukan maju mundurnya negeri ini, merekalah yang akan menggenggam masa depan negeri ini," kata Etik.

Oleh karena itu, menangani anak membutuhkan spesialisasi atau perlakuan khusus dan emosi yang stabil.

Sebab, anak memiliki peran strategis. Serta mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensial bangsa dan negara pada masa depan.

Sayang, kata dia, fenomena kasus kekerasan terhadap anak, masih kerap terjadi.

"Kontrol dari keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat perlu ditingkatkan kembali," ucap dia.

"Upaya pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan perlu ditingkatkan dan diimplementasikan lebih sistematis dan komprehensif. Agar tidak hanya difungsikan sebagai penanganan saat sudah terjadi kekerasan, namun juga dalam upaya pencegahannya," imbuh dia.

Menurut Etik, kekerasan terhadap anak juga dapat terjadi karena lemahnya motivasi dan ketidakpedulian orang tua maupun lingkungan sekitar peserta didik.

Pihaknya sangat mengharapkan orang tua dapat memberikan perhatian lebih terhadap anak.

Sehingga mutu belajar anak, baik saat di sekolah maupun di rumah dapat berkualitas. (kwl/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#anak #kekerasan #bullying #sukoharjo