Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

12 Nyawa Melayang karena Kasus Leptospirosis di Sukoharjo: Kenali Cara Penularannya

Iwan Kawul • Kamis, 29 Februari 2024 | 05:23 WIB
Ilustrasi bahaya leptospirosis.
Ilustrasi bahaya leptospirosis.

RADARSOLO.COM - Belasan warga Sukoharjo meninggal dunia karena leptospirosis dalam empat tahun belakangan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo Tri Tuti Rahayu mengatakan, jumlah kasus kematian karena leptospirosis di Sukoharjo cenderung fluktuatif setiap tahunnya.

Kasus tertinggi terjadi pada 2022, yakni mencapai tujuh orang.

Sebelumnya, pada tahun 2021 ada satu orang meninggal dunia karena leptospirosis.

Kemudian, pada tahun 2023 ada tiga meninggal dunia.

"Semoga di tahun 2024 ini hanya satu," kata Tri Tuti Rahayu, Rabu (28/2).

Satu kasus kematian karena leptospirosis pada tahun 2024 ini, merujuk pada meninggalnya Suharja, 57, ketua panitia pemungutan suara (PPS) Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol pada Jumat (23/2) malam.

Ketua PPS itu meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit swasta kawasan Solo Baru, Kecamatan Grogol, Sukoharjo.

Tri Tuti mengatakan, kasus leptospirosis di Sukoharjo seluruhnya dilakukan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Sejauh ini, Dinkes Sukoharjo terus berupaya melakukan pengendalian kasus leptospirosis.

Di antaranya melalui sosialisasi tentang penyakit, pencegahan, dan lainnya.

Disebutkan dia, penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan, rekreasi atau hobi, dan bencana alam.

"Saat banjir, bakteri ini terbawa oleh air kencing tikus dan menjangkit warga yang terkena korban bencana banjir. Penyakit satu ini layak untuk diwaspadai, mengingat lingkungan yang terkena banjir sangat riskan disinggahi bakteri," tandas dia. (kwl/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#kasus kematian #dinkes sukoharjo #leptospirosis #kencing tikus