RADARSOLO.COM - Sejumlah alumni Ponpes Al Mukmin Ngruki dituding terlibat dalam berbagai aksi terorisme.
Termasuk sang pendiri ponpes Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Padahal sejatinya, Ba’asyir dikenal sebagai sosok yang lemah lembut.
Nama-nama alumni ponpes ini yang terlibat kasus terorisme, di antaranya Indrawarman alias Toni Togar yang terlibat bom saat malam Natal 2000.
Kemudian tiga bersaudara Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron, yang dijuluki trio bomber Tenggulun karena terlibat kasus bom Bali.
Nama lainnya yang tidak kalah kondang adalah Fathurrohman Al Ghozi, alumni Ngruki 1986. Dia ditembak mati di Filipina pada 2003.
Ada juga Zulkarnaen, dedengkot Jamaah Islamiyah (JI). Kemudian Asmar Latin Sani yang terlibat kasus bom JW Marriot 2003.
“Alumni yang sudah lulus dituduh terlibat aksi terorisme. Padahal peristiwanya jauh setelah alumni itu lulus," ungkap Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki Ustad Yahya Abdurrahman kepada RadarSolo.com
"Artinya, mereka punya banyak waktu untuk belajar di tempat lain. Di mana pun. Kenapa kemudian dikaitkan dengan Ponpes Al-Mukmin?” imbuhnya.
Yahya mencontohkan Imam Samudra, yang juga alumni Ponpes Al-Mukmin. Dia merupakan terpidana mati kasus bom di malam Natal 2000 dan bom Bali 2002.
Dia dieksekusi bersama Huda bin Abdul Haq dan Amrozi bin Nurhasyim, setelah ditangkap pascakasus bom Bali.
“Kenapa Imam Samudra tidak dikaitkan dengan sekolah yang mendidiknya? Kenapa hanya Al-Mukmin? Pondok atau sekolah yang lain tidak dikaitkan?” imbuh Yahya.
Yahya juga menyayangkan, Ustad Abu yang merupakan kelahiran Jombang, 17 Agustus 1938 dituding di balik aksi-aksi terorisme tersebut. Padahal dia dikenal sebagai sosok yang lembut pembawaannya.
Selain itu di zaman Orde Baru, lanjut Yahya, Ustad Abu posisi di luar negeri. Dalam masa pelarian karena tekanan pemerintah pada waktu itu. Sekembali dari luar negeri, waktu Ustad Abu lebih banyak di dalam penjara.
“Wajar jika para murid (alumni) sowan ke gurunya. Kalau itu kemudian dikaitkan sebagai pimpinan teroris atau mendukung terorisme, ya tidak benar. Ustad Abu sosok yang lembut,” tegas Yahya.
Satu hal lagi yang disayangkan Yahya, yakni tudingan Ponpes Al-Mukmin memiliki bunker bawah tanah sebagai gudang senjata. Padahal tudingan tersebut tidak terbukti.
Kendati demikian, Yahya mengakui Ponpes Al-Mukmin Ngruki, sempat tertutup bagi media.
Bukan tanpa alasan, karena santernya pemberitaan tentang terorisme yang mengarah ke ponpes tersebut. Sehingga proses belajar mengajar pada santri terganggu.
“Sejak ada peristiwa-peristiwa kasus teroris, pondok selalu didatangi media. Jujur aktivitas ini mengganggu kegiatan belajar para santri. Maka kebijakan saat itu, kami menutup diri. Tapi, pada dasarnya kami terbuka. Sekarang silakan meliput atau wawancara tentang aktivitas pondok,” bebernya. (kwl/fer)
Editor : Damianus Bram