RADARSOLO.COM-Rasa sedih dirasakan pasangan suami-istri Tri Wibowo-Yuli Sri Utami, orang tua Abdul Karim Putra Wibowo (AKPW).
Tepat pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, anak sulungnya yang sedang menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sukoharjo pulang tinggal nama.
Abdul Karim Putra Wibowo, 13, meninggal dunia diduga menjadi korban perundungan seniornya di ponpes.
Pantauan radarsolo.com di rumah duka Abdul Karim Putra Wibowo di RT 01 RW 04, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres , Kota Solo, Yuli terus menangis di samping jenazah Abdul Karim Putra Wibowo.
Tri pun tak kuasa membendung air matanya saat menyalami teman-teman satu kelas Abdul Karim Putra Wibowo yang datang melayat ke rumah duka.
Kepada awal media, Tri mengaku kurang mengetahui kejadian pasti yang menyebabkan anaknya meninggal dunia.
Namun dari hasil informasi yang diterima Tri, Abdul Karim Putra Wibowo menjadi korban bullying dan kekerasan.
Yang membuatnya tak habis pikir, kejadian ini bermula dari hal sepele.
"Jadi, hari itu dengan alasan senioritas, kakak tingkat anak saya meminta rokok, padahal anak saya tidak merokok. Karena alasan itu, anak saya dipukuli," tutur Tri sembari menahan tangis, Selasa (17/9/2024).
Tri mendapat kabar meninggalnya Abdul Karim Putra Wibowo Senin (16/9/2024) siang.
Tri dan Yuli langsung bergegas menuju ponpes di Kabupaten Sukoharjo.
Sesampainya di ponpes, Tri dan Yuli menggunakan mobil ponpes dibawa ke klinik tempat merawat Abdul Karim Putra Wibowo.
Setibanya di sana, Tri dan Yuli baru tahu anaknya meninggal dunia.
Baca Juga: Seorang Konten Kreator Diperiksa Polisi Terkait Hoax Isu Perselingkuhan Azizah Salsha
Tri tak menyangka anaknya meninggal dunia dengan cara yang tragis.
Abdul Karim Putra Wibowo, kata Tri, baru 1,5 tahun menempuh pendidikan di ponpes tersebut dengan harapan bisa mendapat ilmu secara akademik maupun memperdalam ilmu agama.
Kapan terakhir kali bertemu sang anak? Tri menyebut pekan lalu. Tepatnya saat jadwal sambang santri, sehingga anak diperbolehkan dijemput orang tua.
"Sempat saya ajak jalan-jalan, muter-muter Solo sama ibunya dan dua adiknya. Setelah itu menginap rumah sehari, terus saya antar ke ponpes," ujar Tri.
Apakah punya firasat tertentu sebelumnya, Tri menjelaskan, sekelebat melihat wajah anaknya sayu pada saat bertemu kali terakhir. Namun dia tak menghiraukan hal tersebut.
Pernahkah Abdul Karim Putra Wibowo bercerita tentang hal yang dialami di Ponpes? Tri mengatakan tidak.
"Itulah, anak saya tidak pernah bilang apa-apa. Ketika saya tanya, katanya di sana baik-baik saja. Sehingga saya selalu berpikiran positif," terang dia.
Saat ini, Tri masih menunggu hasil otopsi dari pihak rumah sakit. Kematian Abdul Karim Putra Wibowo akan dibawa ke ranah hukum.
"Ini bukan saya dendam dengan ponpes. Cuma saya ingin kejelasan apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya," terang Tri.
"Jangan ada lagi korban lain. Karena sejatinya pondok pesantren pilihan yang baik buat anak-anak. Tapi tolong jangan ada korban. Kasihan mereka sudah jauh dari orang tua, mau belajar, harus dikerasin," pungkasnya. (atn/wa)