RADARSOLO.COM - Di Dusun Canden, perbatasan Desa Godog dan Rejosari, Kecamatan Polokarto terdapat sebuah makam yang menyimpan kisah misteri secara turun-temurun.
Makam itu adalah tempat peristirahatan terakhir Mbah Jenggot. Sosok yang diyakini sakti dan paling disegani di masanya.
Hingga kini aura mistis masih menyelimuti makam Mbah Jenggot. Maklum, di sana terdapat sejumlah larangan yang dipercaya masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Mbah Jenggot.
Makam Mbah Jenggot berada di area yang cukup rindang, dikelilingi pepohonan besar. Menciptakan suasana sejuk sekaligus sunyi.
Jalan menuju lokasi masih berupa tanah atau paving sederhana. Memberikan kesan alami yang tetap terjaga.
Tidak ada bangunan besar di sekitar makam, hanya struktur sederhana yang mungkin berfungsi sebagai penanda atau tempat berdoa bagi peziarah.
Di sekitar makam, pepohonan besar memberikan keteduhan. Seolah menjaga tempat itu dari gangguan orang luar.
Suasananya terasa damai. Namun bagi mereka yang peka atau memiliki kekuatan supranatural, pasti merasakan energi tertentu yang bikin bulu kuduk berdiri.
Staf Kecamatan Polokarto sekaligus warga Desa Godog Arif mengaku, Mbah Jenggot bukan sekadar tokoh biasa. Dia dikenal sakti mandraguna, punya ilmu tinggi, dan sangat dihormati.
“Orang-orang zaman dulu bahkan segan menyebut namanya sembarangan. Menurut cerita turun-temurun, Mbah Jenggot adalah orang sakti dan disegani di sini,” kata Arif.
Salah satu kepercayaan yang masih dijaga hingga kini, yakni larangan menangkap, berburu, hingga melukai burung yang ada di sana.
Ada burung prenjak, gemak, hingga perkutut. Burung-burung itu diyakini sebagai peliharaan kesayangan Mbah Jenggot.
“Kalau ada yang nekat menangkap atau menyakitinya, orang itu bisa kena musibah. Bahkan mengalami hal yang sama, seperti yang dilakukan pada burung tersebut,” tambah Arif.
Meski dikenal angker, makam Mbah Jenggot masih sering dikunjungi warga. Terutama yang berniat ziarah ataupun sekadar berdoa.
Bagi warga sekitar, keberadaan makam ini bukan tentang kisah mistis. Tetapi juga simbol penghormatan terhadap leluhur, yang diyakini memiliki kesaktian istimewaan.
Contohnya larangan beburu burung prenjak, gemak, dan perkutut tadi. Itu bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi.
“Masyarakat percaya, selama aturan dan tata krama tetap dijaga, makam ini menjadi tempat yang penuh wibawa dan ketenangan. Namun bagi mereka yang meremehkan, bisa fatal,” ujar Arif.
Jika suatu hari Anda berkunjung ke makam Mbah Jenggot dan melihat burung-burung tersebut bertengger di dahan, biarkan mereka tetap bebas.
“Siapa tahu itu adalah cara Mbah Jenggot dalam menjaga warisannya yang tak kasat mata,” beber Arif. (kwl/fer)
Editor : Damianus Bram