Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Yulius Sukiman Eks Karyawan PT Sritex yang Setengah Abad Mengabdi, Ini Dia Kisahnya

Iwan Kawul • Minggu, 2 Maret 2025 | 14:30 WIB
PERPISAHAN: Yulius Sukiman (depan) bersama eks karyawan Sritex.
PERPISAHAN: Yulius Sukiman (depan) bersama eks karyawan Sritex.

RADARSOLO.COM - Yulius Sukiman, 79, harus menghadapi kenyataan pahit, PT Sritex tempatnya bekerja lebih dari 50 tahun bangkut.

Dia merupakan saksi hidup perjalanan perusahaan tekstil raksasa di Asia ini, sejak masih merintis pabrik kecil di Baturono, Pasar Kliwon, Solo.

Setiap hari Yulius Sukiman berangkat kerja dengan semangat yang sama, seperti saat pertama diterima sebagai karyawan Sritex pada 19 November 1969.

Namun pada Jumat (28/2/2025) kemarin, keberangkatannya diselimuti duka. Perusahaan yang sudah menjadi bagian hidupnya resmi tutup.

“Saya merasa kehilangan. Sritex sudah seperti keluarga sendiri,” ujar Sukiman lirih.

Yulius masih ingat, saat almarhum Likminto –pendiri Sritex– merintis pabrik kecil di Baturono, Pasar Kliwon, Solo. Dulu, jumlah pekerjanya terbilang masih sedikit.

“Pak Luk (almarhum Lukminto) masih merintis usaha waktu itu. Seiring berjalannya waktu, usahanya mulai meningkat. Bisa beli mesin-mesin produksi yang canggih di zamannya. Terus berkembang hingga memiliki pabrik besar di Sukoharjo,” kenangnya.

Ketika Sritex mulai membuka pabrik di Sukoharjo, Yulius sempat terlibat dalam pembangunan. Dia masih ingat, kawasan pabrik itu dulunya masih areal persawahan.

“Saya ikut babat alas, menyaksikan sendiri pembangunan fondasi. Dulu belum ada alat-alat berat. Semua dikerjakan manual,” bebernya.

Di masa itu, pekerja yang direkrut berasal dari berbagai daerah seperti Gunungkidul, Wonogiri, dan Grobogan. Mereka diberi mes untuk tinggal, makan tiga kali sehari, plus gaji.

“Dulu gaji saya sering titip ke Pak Luk. Kalau ingin jajan ya dari uang lembur. Kalau pas mudik bisa beli sawah dan sapi. Kedekatan antara pekerja dan juragan sudah seperti keluarga,” ujarnya.

Sering waktu pekerja lembur, almarhum Lukminto memberi makanan tambahan. “Pak Luk sering belikan nasi liwet dan gorengan. Hal-hal kecil ini bikin kami merasa dihargai,” bebernya.

Di Sritex pula, Yulius menembukan tambatan hatinya. “Saya menikah, dapat istri ya di Sritex. Istri saya juga kerja di Sritex,” katanya sambil tersenyum.

Siapa sangka, anak-anak Yulius bisa sukses dalam pekerjaannya. “Ada yang jadi dokter spesialis, pengacara, akuntan, dan paling kecil ikut jejak saya di dunia tekstil,” bebernya.

Di Sritex, jabatan terakhir Yulius sebagai manager finishing. Meskipun dekat dengan almarhum Lukminto, dia tak pernah memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.

“Sama Pak Luk dan Bu Luk sudah seperti keluarga. Sering satu mobil. Pernah ditawari uang dan rumah, tapi saya tolak. Lebih baik uangnya untuk kembangkan pabrik,” ujar Yulius.

Meski usia nyari kepala delapan, Yulius masih setia mengabdi. “Saya ingat pesan Pakl Luk. Diminta kerja sampai kapan pun dan semampu saya,” ungkapnya. (kwl)

Editor : Damianus Bram
#pailit #Yulius Sukiman #tutup #Sritex #sukoharjo #pekerja