RADARSOLO.COM – Suasana sore di halaman Masjid Agung Baiturrahman Sukoharjo terasa lebih hangat dari biasanya.
Sekitar 400 takjil dibagikan kepada jamaah masjid oleh jemaat Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Sukoharjo, sebuah aksi yang menggambarkan indahnya toleransi antarumat beragama.
Rombongan jemaat gereja, yang dipimpin langsung oleh Romo Petrus Dwi Purnomo, Pr, berjalan kaki sejauh 100 meter dari gereja menuju Masjid Agung.
Dengan penuh keramahan, mereka menyerahkan takjil kepada umat Muslim yang tengah menunggu waktu berbuka puasa.
"Kami dari umat Katolik Sukoharjo ingin berbagi kebahagiaan dengan sahabat-sahabat Muslim. Saat ini, kami menjalankan puasa Paskah, sementara teman-teman Muslim berpuasa di bulan Ramadan. Semoga kebersamaan dan persaudaraan lintas agama ini terus terjaga," ujar Romo Petrus dengan senyum hangat, Kamis (20/3).
Kegiatan ini bukanlah yang pertama kali dilakukan. Ngatiman, takmir Masjid Agung Baiturrahman, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas aksi berbagi yang telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut.
"Setiap tahun kami selalu menerima kiriman takjil dari jemaat Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Sukoharjo. Ini adalah bukti bahwa kerukunan antarumat beragama di Sukoharjo sangat erat. Semoga persaudaraan ini tetap terjaga," tuturnya.
Sementara itu, Danar, seorang tokoh pemuda toleransi di Sukoharjo, turut mengapresiasi aksi ini.
Biasanya, kata Danar, komunitas pemuda Muslim juga mengirimkan takjil ke gereja pada perayaan Jumat Agung.
Namun, tahun ini, Jumat Agung jatuh setelah Idul Fitri, sehingga giliran jemaat gereja yang lebih dulu berkunjung ke masjid.
"Kami merasa tersanjung dan bahagia dengan kerukunan yang begitu indah ini. Semoga ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus menjaga keharmonisan di tengah perbedaan," ujar Danar.
Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi Katolik, seperti Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Sukoharjo dan Orang Muda Katolik (OMK) Hati Kudus Yesus. Mereka berbagi takjil mulai pukul 17.30 hingga waktu berbuka puasa tiba.
Di tengah dinamika keberagaman, aksi kecil ini membawa pesan besar, bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan.
Sukoharjo kembali menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar kata, tetapi nyata dalam tindakan. (kwl)
Editor : Damianus Bram