RADARSOLO.COM - Di Dusun Ngricik, Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, tahu kupat bukan sekadar kuliner. Ia adalah identitas, kebanggaan, dan warisan yang mengalir dari generasi ke generasi.
Hampir setiap rumah di dusun yang terdiri dari empat RT ini memiliki kisahnya sendiri tentang tahu kupat.
Tak heran jika daerah ini dijuluki sebagai “kampung tahu kupat”.
Mulai dari Karanganyar, Sragen, Solo, hingga Jogjakarta, jejak para perantau asal Ngricik bisa ditelusuri lewat sepiring tahu kupat yang mereka jajakan.
Rasanya yang khas, sederhana tapi penuh cita rasa, menjadi pengikat antara tradisi dan rezeki.
"Hampir semua warga di Dusun Ngricik berjualan tahu kupat. Usaha ini sudah ada sejak tahun 1940-an, diwariskan dari kakek, orang tua, hingga anak-anak mereka,” tutur Didik Sulistyo, kepala Dusun II Desa Grajegan.
Didik menyebut, salah satu penjual tahu kupat dari Ngricik yang berjualan di Sumber, Banjarsari, Solo, bahkan kerap diundang oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk menyajikan hidangan khas tersebut bagi tamu-tamunya.
Uniknya, tak semua perantau tahu kupat memulai dari warung keluarga.
Ada yang berawal dari menjadi tukang parkir, bekerja di dapur, hingga akhirnya membuka warung sendiri.
Bahkan, ada yang menjalankan strategi bisnis unik, yakni membangun warung dari nol, meramaikannya, lalu menjualnya ke orang lain sebelum memulai lagi dari tempat baru.
"Begitu warung ramai dan punya pelanggan, dijual. Tapi banyak yang beli (warung), justru nggak bisa melanjutkan kesuksesan itu,” cerita Didik yang hingga kini juga masih menekuni profesi pedagang tahu kupat di Tawangsari.
Di masa lalu, para penjual tahu kupat sempat memiliki paguyuban aktif yang dibentuk saat awal masa kepemimpinan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.
Mereka rutin mengadakan kegiatan sosial, bahkan sampai nanggap wayang kulit.
Kini, paguyuban itu vakum. Namun, semangat warga Ngricik tetap menyala untuk menjaga dan menyebarkan warisan kuliner ini.
Bagi Didik sendiri, tahu kupat adalah bagian tak terpisahkan dari hidup.
Ia mewarisi usaha sang ayah, Wagiman, dan sang kakek.
Meski sempat menjadi guru Wiyata Bakti, dia memutuskan untuk kembali ke akar tradisi keluarga.
“Tahun 2009 saya mulai usaha sendiri. Awalnya di Carikan (Sukoharjo), lalu pindah dan bangun warung di tanah milik bapak di Kenteng,” kenangnya.
Berbekal resep klasik keluarga, Didik tak segan menambahkan inovasi.
Ia menambahkan pilihan toping telur dadar atau ceplok, sesuatu yang ia pelajari dari Mas Gun—penjual tahu kupat dari desa sama yang berjualan di sekitar Masjid Sholikin, Solo.
“Variasi telur ini saya terapkan karena banyak pelanggan yang suka. Tapi rasa dasar tetap saya pertahankan seperti racikan kakek dan bapak,” tegasnya.
Meski tren kuliner terus berubah, Didik percaya bahwa dengan menjaga rasa dan menyesuaikan selera zaman, tahu kupat Ngricik akan tetap lestari dan dicintai lintas generasi. (kwl/bun)
Editor : Syahaamah Fikria