Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Butuh Perhatian! Kasus Chikungunya di Sukoharjo Capai 512, Kecamatan Gatak yang Terbanyak

Iwan Kawul • Senin, 21 April 2025 | 20:53 WIB
Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo cek jentik nyamuk.
Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo cek jentik nyamuk.

RADARSOLO.COM – Kasus chikungunya di Kabupaten Sukoharjo terus menunjukkan tren peningkatan.

Hingga 17 April 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo mencatat total 512 kasus, dengan wilayah terbanyak berasal dari Kecamatan Gatak.

Kepala Dinas Kesehatan Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, menjelaskan bahwa wilayah kerja Puskesmas Gatak menyumbang 252 kasus, dengan Desa Mayang menjadi penyumbang terbanyak, yakni 155 kasus.

“Secara keseluruhan, terdapat 12 puskesmas yang melaporkan kasus chikungunya di wilayah Kabupaten Sukoharjo, dengan tingkat sebaran yang bervariasi,” ujar Tri Tuti, Senin (21/4/2025).

Setelah Gatak, penyumbang kasus terbanyak berikutnya adalah Puskesmas Weru dengan 71 kasus, disusul Sukoharjo Kota (44 kasus), Nguter (39 kasus), dan Mojolaban (38 kasus)—terutama dari Desa Sapen.

Sementara itu, wilayah dengan kasus lebih rendah antara lain Polokarto (2 kasus) dan Grogol (7 kasus).

“Puskesmas Bulu menjadi satu-satunya wilayah yang hingga pertengahan April belum melaporkan kasus chikungunya,” imbuhnya.

Untuk mencegah perluasan kasus, Dinas Kesehatan Sukoharjo telah mengintensifkan langkah-langkah preventif, seperti edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan penyemprotan (fogging) di sejumlah wilayah terdampak.

“Langkah-langkah penanganan di antaranya adalah edukasi langsung kepada warga, pemberian larvasida pada tempat penampungan air, serta fogging di lokasi yang ditemukan penambahan kasus,” tambah Tri Tuti.

Kegiatan fogging di wilayah terdampak telah dilakukan pada Kamis, 17 April 2025. Sebelum fogging, warga diajak melakukan gotong royong membersihkan lingkungan dengan metode 3M Plus, dilanjutkan imbauan mengikuti protokol keselamatan selama pelaksanaan fogging berlangsung.

“Setelah kegiatan fogging, warga kami dorong untuk terus melakukan gerakan PSN secara serempak dan berkelanjutan,” tegas Tri Tuti.

Ia juga mengimbau warga untuk mewaspadai gejala chikungunya, seperti demam mendadak, nyeri sendi, ruam kulit, dan kelelahan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala tersebut.

“Desa Mayang angka bebas jentiknya rendah, menandakan warganya jarang melakukan PSN,” pungkasnya. (kwl)

Editor : Damianus Bram
#kasus #fogging #chikungunya #sukoharjo #kesehatan