Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Miris! 25 Tahun Irigasi Dua Desa Di Nguter Sukoharjo Rusak, Hanya Bisa Panen Dua Kali

Iwan Kawul • Senin, 26 Mei 2025 | 18:59 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno dan Anggota DPRD Sukoharjo Sutoyo sidak irigasi di Kecamatan Nguter, Senin (26/5).
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno dan Anggota DPRD Sukoharjo Sutoyo sidak irigasi di Kecamatan Nguter, Senin (26/5).

RADARSOLO.COM – Kabupaten Sukoharjo dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah. Bahkan menjadi penyangga swasembada pangan nasional.

Di balik kejayaan pertanian di Kota Makmur itu, terselip peer (pekerjaan rumah) yang cukup pelik. Yakni sarana irigasi yang memadai.

Harus diakui, tidak semua wilayah di Sukoharjo hasil panen padinya optimal. Mayoritas memang bisa panen tiga kali dalam setahun. Tapi, beberapa ada yang hanya bisa panen dua kali. 

Penyebabnya tak lain kurang optimalnya saluran irigasi sebagai sumber utama air. Seperti dialami para petandi di Desa Kedungwinong dan Daleman, Kecamatan Nguter.

Para petani di dua desa itu hanya bisa memanem padi dua kali setahun. Disebabkan rusaknya saluran irigasi primer yang ada.

Sebagai catatan, saluran irigasi di sana panjangnya sekitar 575 meter. Kondisinya memprihatinkan. Sedimentasinya cukup tebal, hingga nyaris rata dengan jalan.

Ironisnya, kerusakan ini sudah terjadi sejak 25 tahun silam. Padahal irigasi tersebut sebagai penyokong utama lahan pertanian seluas 80 hektare di Desa Kedungwinong dan Daleman.

Tak ingin masalah terus berlarut, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno bersama Anggota DPRD Sukoharjo Sutoyo turun gunung. Melakukan sidak ke saluran irigasi tersebut, Senin (26/5).



Sementara itu, Sutoyo mengaku aduan dari petani disampaikan belum lama ini melalui gapoktan. Setelah itu langsung turun meninjau dan menggelar rapat khusus bersama kelompok tani untuk menggali akar persoalan.

“Ini adalah saluran primer atau utama, yang selama 25 tahun tidak berfungsi. Akibatnya petani tidak bisa tiga kali panen. Maka kami sepakati normalisasi dilakukan secara swadaya. Saya bantu nanti alat beratnya,” kata Sutoyo.

Ia juga menyebutkan telah berkoordinasi dengan kepala dinas pertanian dan menyampaikan hasilnya ke bupati Sukoharjo, yang langsung merespons dengan memerintahkan pengecekan ke lapangan.

“Kalau saluran ini nanti dinormalisasi, petani siap tanam tiga kali setahun. Ini akan berdampak besar bagi produktivitas pertanian,” paparnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#ketahanan pangan sukoharjo #Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo #Irigasi di Sukoharjo #swasembada pangan di sukoharjo